My Teacher My Angel

Ibu Dyah Widyastuti

Tulisan ini adalah sebuah hadiah yang tak seberapa untuk guru yang paling aku hormati dan sayangi. Dan diam-diam aku mengidolakannya dalam hati. Untuk Guruku tercinta, Ibu Dyah Widyastuti, yang tak lelah mengabdi hingga usia telah beranjak 58 tahun (23 Desember 1953 – 23 Desember 2011). Selamat ulang tahun Guruku, selamat ulang tahun Malaikatku.

Ngawi, 1 Desember 2011

Aku sedang coba meretasi hari penuh rindu. Apakah harus menjadi seperti ini? Bagai nyanyian ilalang di riuh rendah gelak belalang. Tak ada yang mengerti.

Ingatanku melayang pada bulan Juli tahun 2004. Hari pertama pelajaran Bahasa Inggris. Sungguh, aku sangat menyukai pelajaran ini. Bagiku, pelajaran ini sangat luar biasa. Betapa tidak, orang udik dari desa terpencil bisa mencecap bahasa asing. Hatiku bergetar-getar, teringat saat di SMP dulu aku tergagap-gagap jika disuruh reading. Maklum, saat aku SD dulu, tidak ada pelajaran bahasa asing itu.

Dan hari itu, sesosok wanita bersahaja melangkah memasuki kelas. Salam terucap. Subhanallah, suara itu sungguh sejuk, dan menari-nari masuk ke relung kalbu. Tatapan matanya yang teduh, ingin aku segera memulai pelajaran ini. Dyah Widyastuti, aku sudah tahu namanya sejak masuk sekolah ini. Memang, sejak kelas satu, aku berusaha untuk menghapalkan nama-nama guru yang ada di sekolah ini. Meski mereka tak mengajar di kelasku.

Tak tergambarkan bahagianya hatiku diajar guru yang satu ini. Bahkan aku merasa dia adalah ibu kedua. Dan tentu saja, ibu kandungku tetap ibu juara satu di dunia. Meski ibu kalau sedang ngomel, tak kan habis kata-kata pedas yang muncrat dari kerongkongannya itu. Tapi aku tetap sayang. Di telapak kakinya-lah aku akan mencari surga. Surga akhirat nan indah menawan, kata pak ustadz.

Kalau aku tidak salah ingat 6 (enam) jam seminggu kami bersua dengan beliau. Dengan sabar Bu Dyah mengajar kelas kami. Aku sadar 100% kalau pengetahuan tentang bahasa inggris kami sangat minim meski kami telah menempuh 5 tahun (3 tahun SMP, dan 2 tahun SMK) mendalami pelajaran bahasa asing ini. Namun, begitu sabar beliau menuntun kami. Memberi semangat kepada kami agar kami tidak putus asa belajar bahasa asing ini. Sesungguhnya kami takut, menghadapi kemungkinan Ujian Nasional Bahasa Inggris yang konon katanya sangat sulit. Sumpah, listening-nya itu lho…. Yang bikin kami merasa seperti punya telinga yang tidak beres. Namun, didampingi guruku tercinta ini, semangatku terasa membumbung tinggi. Oke dunia, akan aku buktikan kalau aku bisa….!

Barangkali beliau memang guru yang hebat, barangkali karisma beliau yang menawan, barangkali suara beliau yang sejuk dan empuk, barangkali tatapan beliau yang teduh menawan, yang menyebabkan aku dan teman-temanku sekelas tak pernah bosan mengikuti pelajaran beliau. Selelah apapun kami, meski tenaga sudah drop, kantuk mulai tak kompromi, namun begitu beliau melangkah memasuki kelas, suasana panas bak padang pasir tergantikan suasana surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Apalagi jika beliau berucap salam. Duh, merdunya suara itu. Selalu bersenandung dan berdengung-dengung di pikiranku. Bu Dyah…. Bu Dyah…. Nama itu sungguh indah.

Aku bahkan menjuluki beliau “ahli setrum”. Bukan dalam arti yang sesungguhnya, ahli setrum disini lebih mengarah kepada “orang yang selalu menyetrum semangat kami agar tidak loyo”. Nasihat-nasihat beliau yang selalu memberi kami motivasi untuk belajar lebih. Keikhlasan beliau yang memikatku.

Keikhlasan itu bagai perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini, aliran ilmu lancar mengucur. Sementara aliran pahala yang deras terus melingkupi para guru yang budiman dan murid yang khidmat. Niatnya hanya demi memberikan kebaikan kepada alam raya, seperti yang diamanatkan Tuhan. Hubungan tanpa motivasi imbal jasa, karena yakin bahwa Tuhan Sang Maha Pembalas terhadap pengkhidmatan ini. Keikhlasan adalah sebuah pakta suci. Kata ikhlas bagaikan obat yang manjur, yang merawat hati dan memperkuat raga. Bu Dyah, beliau ikhlas mendidik kami, dan tentu saja kami niatkan pula untuk ikhlas dididik beliau.

Masih terngiang-ngiang sebuah kalimat sederhana yang meluncur dari bibir beliau saat aku merasa down ketika detik-detik menjelang LKS (Lomba Kompetensi Siswa). Betapa tidak, aku merasa terbebani karena pada event LKS tahun sebelumnya, sekolah kami mendapatkan Juara 3 (tiga) se-propinsi Jawa Timur. Betapa banyak mereka yang berharap bahwa aku bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dari tahun sebelumnya atau paling tidak (harus) dapat Juara 3 (tiga) juga. Hiks-hiks, nervous berat nih!

Saat dingin menjalar ke tanganku, terus dan terus hingga membuat tubuhku bagaikan beku, genggaman hangat beliau-lah yang membuat rasa nervous itu sirna. Dengan kalimat sederhana – namun sakti – beliau akhirnya bisa memulihkan kepercayaan diriku, yang sebelumnya telah porak-poranda karena nervous. ”Do The Best”, ya, itulah kata sakti itu. Menurut beliau, Do The Best itu tidak harus mendapatkan angka (juara), tetapi dengan melakukan usaha sebaik mungkin, Insya Allah, Allah akan membantu. Allah akan membalas usaha itu, karena Allah tidak akan mengubah nasib kita sebelum kita sendiri berusaha untuk merubahnya. Beliau menyarankan untuk menghilangkan semua beban pikiran tentang angka-angka, tak peduli dapat angka berapa tetapi aku harus ”Do The Best”. Akhirnya, dengan kepercayaan diri yang pulih, aku berjuang sekuat tenaga dan pikiran untuk bertempur dalam perlombaan itu. Aku bersyukur akan hasil akhirnya, walau aku hanya menyabet Juara Harapan. Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih, Guruku.

Tahun 2005. Malam sebelum perpisahan. Tangisku meledak diatas sajadah. Aku berdoa kepada-Nya, agar suatu saat nanti aku masih bisa dipertemukan dengan guruku itu. Entah kapan, entah dimana, terserah skenario-Nya. Dan agar beliau selalu diberikan kesehatan serta umur panjang. Saking panjangnya aku berdoa, aku tertidur di atas sajadahku, dan terlupa bahwa aku berniat untuk menulis surat untuk beliau. Pagi tiba, hari perpisahan tiba. Mendung menggayuti pikiranku. Alam bagai gelap gulita. Aku baru tahu rasanya berpisah dengan orang yang kita sayangi. Dan dengan suasana hati seperti ini, aku tak dapat menulis sepatah kata pun. Hanya diam-diam, kupandangi idolaku itu dari jauh. Dan diam-diam pula, kusimpan nama itu jauh di pedalaman hatiku. Agar tidak hilang, agar tidak musnah di telan kekacauan memori ingatanku yang penuh.

Setelah lulus, aku punya cita-cita yang terpendam, yaitu mengkhatamkan Kamus Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris karangan John Ecols & Hassan Shadily. Tujuannya adalah agar aku bisa berbahasa Inggris aktif dan mewujudkan salah satu dari berjuta impianku, yaitu go to abroad (pergi ke luar negeri, ceileeee!). Aku termotivasi untuk bepergian ke luar negeri karena aku pernah membaca sebuah syair karangan Imam Syafii :

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam
Di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah
Ke negeri orang
Merantaulah,
kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelah lah, manisnya hidup akan terasa
Setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak
Karena diam tertahan
Singa jika tak tinggalkan sarang
Tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur
Tak kan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tak bergerak
Dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya
Dan enggan memandang

Maka dari itulah, meski aku sudah mendapat pekerjaan tetap (meski hanya seorang PTT alias Pegawai Tidak Tetap) di almamaterku ini, SMKN 1 Ngawi (dan sangat bersyukur manakala bisa selalu berada di dekat idolaku itu), keinginanku untuk bisa keluar negeri tak pernah mati. Namun diatas semua itu, ada satu cita-cita yang bagaikan bara dalam sekam. Bara itu, jika tersulut sedikit saja akan berkobar-kobar, dan aku akan ikhlas seikhlas-ikhlasnya untuk terbakar.

Menjadi penulis. Ya, cita-citaku ini mungkin terdengar aneh dan jika aku ceritakan pada kawanku selalu menjadi bahan tertawaan. Tak apalah, karena cita-cita itu toh tetap tidak pernah mati. Bahkan akan selalu kubawa sampai mati. Alhamdulillah, syukur tiada tara aku panjatkan kepada Allah Subhanahu wa taala, bahwa aku telah diberi jalan untuk mewujudkan cita-cita itu. Mungkin salah satu jalan dari banyak jalan menuju Roma. Tahun ini (2011) aku memutuskan untuk Kuliah mengambil Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Ngawi. Meretas asa untuk menggapai impian hari esok.

Inilah salah satu nasihat yang beliau berikan: “Orang-orang yang sukses besar dalam hidupnya selalu menetapkan tujuannya sedini mungkin. Tujuan yang jelas, sejelas-jelasnya. Tegas, setegas-tegasnya.” Dan bagi para pembaca yang budiman, berikut ini ada ringkasan beberapa poin (dari buku “The Power of Nekat” karangan Genia Sembada) tentang arti pentingnya sebuah tujuan.

a. Jangan sekali-kali menginginkan sukses jika belum menetapkan tujuan.
Semua kisah orang-orang sukses bermula ketika orang-orang ini membulatkan hatinya, menetapkan tujuan. Tanpa tujuan yang jelas dan tegas, hidup hanyalah omong kosong belaka.

b. Pokoknya, lakukanlah apapun yang dibutuhkan!
Setelah menetapkan tujuan yang jelas dan tegas, selanjutnya Anda harus mantap memegang komitmen untuk siap melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan demi mencapai tujuan tersebut. APAPUN itu!
Tujuan itu boleh sederhana, boleh rumit. Tetapi intinya: bersediakah Anda sungguh-sungguh melakukan segalanya demi mencapai tujuan itu, apapun resikonya, betapapun beratnya, siapapun yang menghalangi Anda. Sebab, tujuan itu akan diuji dengan berbagai macam rintangan.

c. Rintangan = harga sebuah tujuan.
Layaknya orang jual beli, rintangan adalah ”harga” yang harus ”dibayar” untuk ”membeli” suatu tujuan. Semakin bernilai ”barang” yang ingin anda ”beli” (tujuan Anda), tentu semakin ”mahal” pula harganya. Artinya semakin penting tujuan Anda, makin berat pula rintangannya. Jangan mengelak! ”Bayar” saja! Artinya, hadapi rintangan itu. Jika ingin ”gratis” terus, barangkali Anda malah tidak akan pernah mendapatkan tujuan Anda.

d. Tetaplah setia pada tujuan Anda semula – sepanjang jalan, sepanjang waktu.
Selain bersedia melakukan apapun yang dibutuhkan, berkomitmen berarti juga tetap setia pada tujuan kita dari awal hingga penghabisan. Seandainya Anda tidak setia pada tujuan Anda, akan terjadi dua hal, yaitu: 1) Anda akan berhenti di tengah jalan sebelum sampai ke tujuan. 2) Anda akan berubah haluan, dan tidak akan pernah sampai ke tujuan Anda semula.

e. Jangan memilih suatu tujuan jika Anda sendiri tidak paham alasannya.
Hanya orang-orang yang yakin dengan tujuannya sajalah yang sanggup bertahan lama. Jika Anda hanya separuh yakin, jika Anda ragu-ragu atau tidak paham dengan tujuan yang Anda pilih, perhatian Anda akan mudah terpecah. Komitmen Anda akan buyar. Akibatnya Anda bisa lebih rawan tergoda kesenangan jangka pendek yang tidak bermanfaat.

f. Mengapa? Karena!
Tujuan yang benar ibarat ”gatal yang tak bisa digaruk”. Mengapa? Karena sebelum digaruk, rasanya terus saja menyiksa. Karena impian yang tak tercapai akan gentayangan menghantui pikiran Anda. Hidup Anda dijamin bakal ”gatal” luar biasa jika tujuan ini tidak terpenuhi.

g. Horeeeeee! Ada rintangan!
Angan-angan saja tidaklah cukup. Setelah paham dan mantap dengan tujuan Anda, perlu mempersiapkan cara-cara mengatasi rintangan untuk mencapainya. Ketika cara-cara lain seakan buntu, kita masih punya modal nekat. Sukses adalah soal kenekatan. Kalau Anda nekat, selalu ada terobosan. Sukses bukan ditentukan oleh waktu Anda, melainkan nekat Anda. Seperti pesan seorang purnawirawan, “Lebih baik satu hari jadi macan daripada seratus tahun jadi kelinci”. Hihihi, tua banget tuh kelinci!

Bu Dyah, Malaikatku itulah yang hingga kini masih memberiku semangat hingga aku masih dapat merasakan letupan-letupan semangat seperti dulu lagi saat beliau memberikan motivasi atau nasihat-nasihat. Juga ketika banyak orang yang berkomentar miring tentang pilihanku untuk masuk Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, beliaulah yang menyejukkan hatiku bahwa kita harus yakin dengan pilihan kita, kita harus yakin dengan tujuan yang kita raih, biarlah anjing menggonggong namun kafilah tetap berlalu. Sampai detik ini pun – saat aku sudah pindah kerja di SMA Negeri 1 Ngawi – aku masih sering meminta nasihat kepada beliau, seperti kata pepatah, mintalah nasihat sebelum dinasehati. Bu Dyah, dari lubuk hati yang paling dalam aku bersaksi bahwa aku bangga pernah menjadi murid Anda. You’re My Angel.

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: