AKU SAYANG KAMU, WIM!

3

Entah kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering kepikiran sama dia. Anganku melayang kesana-kemari sibuk mengusir rasa aneh itu. Sore ini begitu cerah. Angin segar menerpa helai-helai dedaunan. Usai menyisir rambutku kuayunkan sepedaku menuju suatu tempat yang telah dijanjikan. Sore yang sangat indah. Aku merasa bebas setelah melewati semuanya.

“Fan, kukira kamu nggak datang…” sapa Wim.

“Sorry ya, aku agak telat. Barusan disuruh belanja sama ibuku.” Jelasku.

Wimas, ya itulah sesosok teman yang begitu akrab denganku. Sesosok cowok yang sangat solid bagiku.

“Eh, gimana nich, berhasil nggak kamu?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Hhh, gagal. Dia nolak gue. Tapi nggak papa kok..!” ujarnya kalem.

“Wah, sorry ya, aku turut berduka cita nich!” komentarku.

“Elo sendiri, gimana dengan si itu ‘tuch?” godanya.

“Boring banget nih! Lagi marahan ama dia. Masa’ dia cemburu sama kamu! Khan kita cuman temenan, dianya aja yang sok cembokur!” sahutku sewot.

Aku tak mengerti. Kenapa wajah Wim berubah tegang. Dia membuang muka kearah luar jendela kafe ini. Angin sore memainkan helai-helai rambut Wim. Ah, ada apa denganmu, Wim?

Tanpa terasa matahari senja telah merangkak menuju peraduannya. Semburat kekuningan menyala di ufuk barat. Perjalanan sore yang indah, setelah bebas dari semuanya. Aku dan Wim ngobrol banyak setelah seminggu tak bertemu gara-gara ulangan semester. Kuhabiskan sore ini dengan menikmati indahnya senja bersama Wim.

***

“Fan, Fani….!”

Aku tersentak. Tangan Linda bergerak melambai-lambai tepat didepan hidungku dan membuyarkan seluruh lamunanku tentang Wim.

“Yah elah ni anak…! Pagi-pagi udah melamun. Entar kalo kesurupan baru tau rasa!” semprot Linda, dia gadis manis temanku sebangku.

“Kalo gue kesurupan nih ya, gue janji, yang bakal gue cekek pertama kali itu elo!” sahutku ngawur.

“Tega amat! Gue nggak mau ko’it ditangan elu.. Ih, malu-maluin aja!” teriak Linda membalasku.

“Serah elu dech!” kataku dengan agak malas.

“Lesu amat sich! Ngelamunin si Indra ya?” godanya dengan mata dikedip-kedipkan, persis orang kelilipan. Lucu sekali tingkahnya.

“Nggak! Gue lagi marahan kok ama dia.” Jawabku.

“Jadi bukan si Indra? Berarti ada yang lain dong yang elu pikirin?” tebak Linda. “Ayo dong, Fan, ceritain ke gue!” rajuk Linda.

“Nggak ada.” Jawabku pendek. “Percaya deh, suer!” kuacungkan dua jariku didepan mukanya supaya dia nggak curiga kalo aku berbohong.

“Ya udah deh, kalo bo’ong biarin aja lu disamber gledek!”

“Eh, eh, berani ya nyumpahin temen sendiri?” tanyaku pura-pura marah.

“Lupain deh! Mungkin elo lagi pengen sendiri. I wanna go to the canteen. Ikut nggak?”

“Thanks a lot. You first.” Sahutku.

“Okey, I’m first.” Akhirnya Linda pergi meninggalkanku, namun baru beberapa langkah Linda berbalik lagi menatapku dan berkata, “Hey, Mrs. Indra, Don’t be sad!” Linda melempar senyumnya yang paling khas kearahku. Aku cuman melotot lebar membalasnya dan Linda cuman nyengir kuda. Dasar!

Terus terang, aku memang lagi ingin sendiri. Ah, kenapa aku semakin kacau dengan pikiranku yang macam-macam? Tidak! Tidak boleh, Fani! Kamu harus bisa atasi semua ini sendiri. Ini salahmu sendiri, Fani! Batin Fani menjerit tak karuan.

***

“Fani!” suara Fery memanggilku dari belakang, membuat langkahku terhenti untuk segera pulang kerumah. “Nih! Ada titipan dari Wim.” Katanya seraya menyodorkan sebuah surat beramplop putih padaku.

Dari Wim? Tanyaku dalam hati. Kenapa sih, ni anak? Masuk sekolah aja enggak, malah nitip-nitip surat. Padahal baru kemarin sore mereka bertemu. Memang sih, sekolah sedang class meeting dan nggak ada pelajaran.

“Thanks ya, Fer!” kuterima surat itu dari tangan Fery.

“Ya udah, aku duluan ya, Fan!” Ferry berkata sembari melirik Seiko yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. “Aku udah terburu-buru nih, ada Les Privat. Bye!” Ferry melambaikan tangannya padaku dan pergi.

Kutatap kepergian Fery yang semakin jauh. Kulirik surat di genggamanku, lalu kumasukkan ke dalam tasku dan segera bergegas meninggalkan halaman sekolah. Penat yang melumuri badan dan benakku seharian ini, ingin aku menghilangkannya segera dengan berbaring di kamarku. Segera, agar kuat menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.

***

“Fani yang amit-amit (eh, salah, imut-imut maksudnya). Ntar sore kutunggu kamu di tempat biasa. Oke? See you! (Salam muanis… Wim)”

Sepucuk surat yang sangat singkat itu kubaca dikamarku. Hhh, lagi-lagi kamu selalu begini, Wim. Keluhku dalam hati. Lama kita berteman tapi terkadang aku nggak mengerti jalan pikiranmu. Sejak aku kenal kamu, aku selalu merasa bisa bahagia, bercanda, tertawa denganmu. Kamu selalu ngasih aku semangat. Memang sejak itu rasanya kehidupanku berubah, sejak aku merasa punya teman dekat sepertimu. Kadang aku tertawa, gembira bila ada disisimu. Kadang pula, dadaku begitu sesak saat kau begitu akrab dengan Linda. Ya, Linda temanku sebangku. Teman dekatku yang pernah memikat hatimu.

Dadaku terasa sangat sesak mengingat semua kenangan itu. Aku ingin menangis. Tapi kenapa? Kenapa aku ingin menangis? Ya Tuhan, perasaan aneh apakah ini? Aku tak mengerti, Tuhan! Dan sungguh, aku tak ingin mengerti!

Cuman teman, nggak lebih dari itu. Aku memperingatkan diriku sendiri. Apakah aku cemburu pada Linda? Benarkah aku cemburu? Padahal aku sendiri juga jalan dengan si Indra, teman Wim. Namun perasaan ini terkadang terus menuntut jawaban. Jawaban yang hingga kini belum aku temukan. Rasa ini tersembunyi begitu dalam dan terhalang banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Akankah semuanya terungkap suatu saat nanti? Ah! Kacau sekali kamu! Pikirku saat melihat cermin dan menatap bayanganku sendiri yang tak keruan. Kenapa pikiran ini selalu saja hadir dan mengusik benakku? Tidak! Tidak! Teman hanyalah teman.

***

Tit tit tit….! Tit tit tit…! Tit tit tit….!

Jam wekerku menjerit-jerit di atas meja sebelah ranjangku.

Hah! Aku segera terbangun dan terduduk tegak! Udah jam empat. Waduh! Bisa-bisa telat nih. Aku segera menyambar handukku di gantungan dan berlari ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian aku telah selesai dan berpakaian. Dasar! Gara-gara ketiduran sih..

“Bu, Aku pegi ke pantai dulu ya.” Pamitku pada Ibu sembari mengeluarkan federalku dari gudang samping rumah.

“Ya, pulangnya jangan sampai magrib ya?” pesan Ibu sembari terus menyirami anggrek kesayangannya.

“Oke, Bu. Fani berangkat dulu ya?”

Lekas kuayunkan federal biru-ku ke tempat aku dan Wim biasa bertemu. ‘Sea Café’, sebuah kafe yang ‘lumayan’ nyaman dipinggir pantai dengan pemandangan yang selalu indah. Juga suara deburan ombak yang memecah kesunyian, anginpun tak lelah-lelahnya memainkan rambut setiap pengunjung kafe. Tak begitu jauh, hanya sekitar 1000 meter dari rumahku.

“Wim!” seruku seraya melambaikan tanganku kearah Wim ketika tiba di kafe itu. Selalu saja tempat itu. Tempat duduk kami. Sepasang kursi berhadapan paling pinggir dekat jendela. Kuparkirkan sepedaku dan menghambur masuk menemui Wim. “Sore, Don!” sapaku pada Doni, pelayan kafe itu. Doni membalasku dengan senyumnya yang selalu menawan setiap pengunjung.

“Hai, Fan.” Sapa Wim lirih.

Aneh, pikirku. Wajah Wim terlihat murung. Senyum sekilas yang diperlihatkan padaku sepertinya sangat ‘dipaksakan’.

“Ada apa, Wim? Kamu ada masalah?” tanyaku. “Kenapa tadi nggak masuk?”

“Nggak apa-apa.” Jawabnya singkat. “Lagian ‘kan jam kosong.” Wim berkata tanpa memandangku. Tatapannya lurus ke arah laut yang jauh.

Nggak biasanya Wim seperti ini. Apa yang dipikirkannya? Raut mukanya menunjukkan kegelisahan yang berusaha dipendamnya.

“Ehm, Fan…. Emangnya bener kamu udah putus dengan si Indra?” tanyanya menyeruak di keheningan suasana hati.

“Yaa begitulah. Aku udah nggak cocok lagi ama dia. Sebenernya aku juga nggak suka dengan sikapnya.” ujarku.

“Apakah dia masih marah padaku?” Wim menyelidik.

“Entahlah. Mungkin masih. Lagian, kenapa juga sih kamu mukul dia?” tudingku.

“Aku cuman ingin melindungi kamu.” Wim membela diri.

“Dari apa?” sahutku cepat. Aku menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban.

Wim terdiam namun pandangannya tak lepas dari mataku, “Dari apapun,” jawabnya lirih, kemudian melanjutkan, “dan dari siapapun juga. Aku tidak ingin kamu terluka, aku ingin berusaha melindungimu semampuku.” Tutur Wim tanpa ekspresi. Namun aku tahu, ada bara api yang berkobar dimatanya.

Aku terpaku di kursiku. Seolah jantungku tak bisa tenang, selalu berdegup kencang bila ditatap sedemikian rupa.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan.” Tukasnya. Wim menghela napas panjang. Lagi-lagi dia membuang muka dan terdiam.

Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sibuk mencerna kata-kata Wim barusan. Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar-debar tak karuan?

“Tapi kenapa, Wim?” tanyaku tak kalah lirih, seolah aku bertanya pada diriku sendiri.

“Kenapa?” ulang Wim dengan suara tercekat, menatap mataku nanar.

“Lupakan.” Sahutku cepat. Menyadari sebuah kesalahan, bahwa pertanyaanku tadi seperti orang yang mempertanyakan sebuah harapan. Entah pada apa. Ah, bodoh sekali aku. Kenapa aku berkata seperti itu? Seharusnya aku tahu bahwa saat itu Wim hanya sekedar melindungiku. Tak lebih dari itu. Kenapa aku harus berharap lebih?

***

Ketika itu, tepat seminggu yang lalu. Pantai selalu ramai di malam minggu. Aku dan Wim berjalan-jalan di sepanjang pantai. Tanpa sengaja aku melihat Indra berduaan dengan seorang cewek. Tingkah laku mereka berdua mesra sekali. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget dengan kejadian itu karena sebelumnya aku sudah mengetahui informasi tersebut dari temanku. Aku tak menanggapinya, aku memang merasa sudah tidak cocok lagi dengan Indra.

Aku berpura-pura tidak melihat mereka berdua, dan memilih untuk menyingkir menghindari mereka. Namun tanpa kuduga Wim menghampiri mereka, dengan sigap mencengkeram kerah baju Indra dan memukul wajahnya. Aku shock dan hanya bisa ternganga melihat semua itu, tak menyangka kalau Wim akan berbuat senekat itu pada temannya sendiri. Semuanya terjadi begitu cepat.

“Pengkhianat!” seru Wim pada Indra.

“Kamu yang pengkhianat!” balas Indra tak kalah keras. “Diam-diam kalian saling menyukai di belakangku. Kamu kira aku tidak tahu, hah?! Akuilah, Wim! Katakan kalau kamu menyukai Fani!” Bentak Indra sambil membelalakkan matanya kearah Wim.

Wim terdiam seketika dan melepaskan cengkeramannya. Seketika itu juga, Indra menghempaskan tubuh Wim ke atas pasir dan meninggalkan kami dengan marah. Dan aku tak berbuat apa-apa, seolah terpaku ditempatku berdiri dan hanya menyaksikan pertengkaran mereka. aku tak kuasa menelan perkataan Indra yang serasa menusuk relung hatiku.

“Fan, Fani. Hei, kamu tak apa-apa, khan?” suara Wim menyadarkanku dari lamunan. Membawaku kembali ke masa sekarang.

“Oh,…. Eh, aku…” aku tergagap. Malu rasanya ketahuan melamun. “Aku tak apa-apa.” Jawabku.

“Fan, ada yang harus kita bicarakan.” Nada suara Wim terdengar tegang.

“Oke, bicaralah..”

“Sebelumnya maafkan aku. Tak mengapa jika kau tak menerima tulusku. Tapi aku juga nggak mau disalahkan karena telah menyukaimu.” Wim berhenti sejenak menghela nafas, kemudian melanjutkan “Perasaan ini begitu jujur dan kuat meski aku telah berulang kali mencoba melarang dan menyangkalnya. Maaf, aku mengerti bahwa semua ini hanyalah mengkhianati persahabatan kita selama ini. Maafkan aku, Fan.” Tutur Wim panjang lebar.

Tatapan Wim terasa menerjang kesadaranku. Otakku bekerja cepat menganalisa seluruh penjelasan dari Wim. Aku tak bisa bergerak, tubuhku sedang berjuang keras menahan ribuan rasa yang hadir menerpaku. “Aku benar-benar tak menyangka kamu berani berkata demikian.” Ujarku setelah sekian lama terdiam. Raut wajah Wim terlihat tegang. “Aku mengira bahwa kau benar-benar tulus ingin menjaga persahabatan kita.” Lanjutku.

“Maafkan aku, aku tak bermaksud…..” Wim menyahut.

“Dengarkan aku,” cepat-cepat aku memotong perkataan Wim. “Tak mengapa persahabatan ini hancur, asal aku bisa terus bersama denganmu.” Ucapku mantap.

Ada seberkas perasaan lega yang terpancar di mata Wim, “Ya. Tak mengapa persahabatan ini hancur. Asal aku tak melihatmu bersama orang lain.” Wim tersenyum menatapku. “Betapa bodohnya aku, Fan. Aku telah berusaha sekuat tenaga untuk memelihara keutuhan persahabatan ini. Dan aku mundur ketika Indra mengatakan padaku kalo dia menyukaimu. Sungguh bodoh! Seharusnya kukatakaan perasaanku dari dulu, agar aku bisa selalu memiliki hatimu. Bukan hanya sebagai teman dan memandangmu dari kejauhan dengan perasaan bimbang.”

Ekspresi Wim sangat tenang. Wim telah mengatakan tepat seperti yang ingin kudengar. Ada perasaan senang dan haru mendengar penuturannya. Ah, akhirnya. Terima kasih, Tuhan – bisikku dalam hati.

“Terima kasih, Wim”.

“Untuk apa?” tanya Wim.

“Untuk semuanya.” Jawabku.

Wim mengangguk pelan, kedua sudut bibirnya terangkat keatas. Wim tersenyum manis sekali, “Ayo kita jalan-jalan.” Wim mengulurkan tangan.

Aku menyambut uluran tangannya. Kami beranjak meninggalkan kafe, berjalan bergandengan tangan menyusuri tepi pantai. Mencoba menikmati setiap detik yang terus berjalan.

“Aku sayang kamu, Wim.” Bisikku perlahan.

“Aku juga.” Wim tersenyum bahagia.

5 responses to this post.

  1. hmmm, seru…🙂

    Reply

  2. alurnya seru soalnya, mudah dimengerti..🙂

    trimakasih, aku juga baru blajar menulis…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: