BUKAN SEKEDAR TEMAN

5

Satu jam sudah gadis cantik itu berada disana. Di bawah pohon rindang yang besar di sebuah taman kota. Sambil tak pernah melepas pandangannya pada kelima jarinya. Terdiam dan termangu menatap nanar pada jari-jarinya. Bingung dan juga merasa bosan karena teringat akan kelima kisah cintanya. Lalu ia mendongak, melepas pandangnya pada orang-orang yang lalu lalang di depannya.

Tak seberapa jauh dari tempat gdis itu duduk, seorang pemuda sedang mengamatinya. Tonny – nama pemuda itu – tersenyum sendiri melihat tingkah laku sang gadis. Tonny pun beranjak dan melangkah mendekatinya. Tepat dua meter di belakang sang gadis, mendadak Tonny menghentikan langkahnya. Ia terkesiap menangkap pesona yang memancar dari gadis itu. Angin yang semilir siang itu memainkan rambut yang tergerai di bahu sang gadis, bertiup perlahan dan tenang seolah-olah senang membelai rambut halus nan hitam itu. Manis sekali dia, pikir Tonny.

Perlahan-lahan namun pasti didekatinya gadis yang duduk di bangku taman itu. Tiba-tiba muncul ide jahil di kepalanya, ia berjingkat-jingkat di belakang gadis itu dan mendorong kepala gadis itu kedepan. Spontan gadis itu tersentak kaget dan berbalik.

“Tonny!?! Keterlaluan banget sih lu!” ujar gadis itu dengan sewot dan pura-pura mengelus kepalanya yang dijedot oleh Tonny.

“Eh, Non, ngapain?” tanya Tonny sambil cengar-cengir. “Ngelamun kok pake mandang jari tangan segala! Emangnya ada panunya ya?”

“Ih…. itu bukan urusan elu ya! Lagian ngapain sih dorong-dorong kepala gue segala? Pusing tauk!” teriaknya kenceng.

“Aduh-aduh… marahnya sampai segitunya, nek!” goda Tonny menirukan suara shinchan.

Gadis itu diam saja, tapi wajahnya bener-bener jelek. Mulutnya manyun kedepan. “Des, masih marah ya?” rajuk Tonny sambil mendekat pada Destina. “Maapin deh…!”

Pusiiiiing, batin Tonny. Ngidam apa sih dulu ibunya, punya anak gadis kok manis banget, pikir Tonny. Meskipun sedang marah, Tonny tetap beranggapan Destina itu cewek yang paling manis. Sahabat karibnya untuk berbagi cerita, jajan, sampai jawaban ulangan – dulu ketika mereka masih duduk di bangku SMU. Heran, sejak duduk di bangku TK selalu saja kebetulan dia dan Destina berada pada ruang kelas yang sama. Sebetulnya, kalo boleh jujur, Tonny gak pernah percaya ama yang namanya kebetulan. Segala sesuatu di dunia ini sudah diatur, dan Tuhan pasti sudah mengatur agar dia dan Destina untuk selalu bersama. Mereka adalah teman sebangku yang paling kompak, paling ribut dan paling kehilangan jika salah satu dari mereka nggak masuk sekolah. Tapi kini lain. Mereka mengambil jurusan yang berbeda walaupun tetap berada di Universitas yang sama.

“Darimana sih lu?” tanya Destina setelah keduanya terdiam untuk beberapa saat.

“Makan siang, masa’ lupa sih? Kan tadi gue ngajak elu, elunya aja yang nolak. Eh, malah duduk melamun disini.” Jawab Tonny seraya acuh tak acuh.

“Iya, maap deh. Lagian gue masih kenyang kok.” Sahut Destina. “Eh, kenapa sih? Muka lu kok gimana gitu?”

“Lagi bete. Soalnya gue baru aja ketemu ama nenek-nenek pikun.” Ujar Tonny cuek seraya melirik kearah Destina dengan tatapan jahil. Setelah itu Tonny segera untuk berdiri dan cepat-cepat berlari menjauh.

Destina membelalakkan matanya pada Tonny setelah menyadari maksud jahil Tonny dan bangkit untuk mengejar Tonny. “Tunggu, Ton! Dasar rese’ lu!” rutuk Destina.

Tapi Tonny sudah tancap gas dan dari kejauhan Tonny menjulurkan lidahnya pada Destina, membuat gadis itu tambah geregetan aja.

“Awas ya, Ton! Kalau ketangkep nanti, gue janji bakal jitakin pala lu ampe botak!” gerutu Destina tak keruan.

Destina berbalik untuk mengambil tas-nya di bangku taman dan melangkah pergi mengambil mobil di parkiran kampus untuk segera pulang.

***

“Huff! Gerah banget!” keluh Destina sembari sibuk mengipas-ngipaskan tangan ke wajahnya. “Lu nggak gerah, Ton?”

“Kalo gerah, buka baju aja.” Sahut Tonny cuek. Sedetik kemudian, Tonny tersentak sadar, secara reflek mengangkat dan menangkupkan kedua tangannya diatas kepala, “Maap, maap, becanda doang!” tukas Tonny cepat dan bergidik ngeri karena Destina telah melotot lebar kearahnya.

Beberapa saat kemudian, Destina membuang muka kearah luar jendela. Termangu dan menatap jauh, entah pada apa. Tonny mengikuti pandangan Destina, matanya menyipit mengawasi dua sosok orang yang berjalan beriringan di trotoar. Ada sejumput rasa nyeri yang memukul kesadaran Tonny menyadari bahwa tatapan Destina masih menyiratkan sebuah rasa.

“Lho, Des, itu khan Fandy dan Mitha!” seru Tonny. “Des, kok bengong sih?” Tonny mencolek tangan Destina.

“Eh, nggak apa-apa kok..!” jawab Destina buru-buru.

“Elo cemburu ya?” selidik Tonny.

“Ih, ngapain juga cemburu? Gue kan udah lama putus dari Fandy.” Kata Destina mantap.

“Oh..” gantian Tonny yang termangu memandang keluar jendela.

“Hey, kok gantian elu yang bengong?” tegur Destina seraya menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan wajah Tonny.

“Don’t worry..! I’m fine..”

“Hem… gue tahu sekarang.” Ujar Destina senyam-senyum. “Elo pasti mikirin si Winda khan?” goda Destina.

“Nggak..” jawab Tonny pendek.

“Kalo gitu….. yap! Pasti si Lia! Ya khan? Ngaku aja deh..” goda Destina lagi dengan raut muka yang benar-benar menyebalkan.

“Sok tahu lu!” sahut Tonny sewot sembari menyeruput es jeruk di mejanya.

“Lu udah nembak dia?”

“Uhuk!” Tonny tersedak. Hampir saja dia menyemprotkan minumannya ke muka Destina, tapi ia segera menutup mulutnya dengan tangan.

“Aduh, ati-ati dong!” ucap Destina panik. “Lu tahu nggak? Kemaren tetangga gue ada yang meninggal gara-gara tersedak es jeruk!” wajah Destina nampak serius.

“Hah??! Tega lu Des! Masak lu nyumpahin gue cepet mati, gitu?” Tonny pura-pura marah.

“He he …. Becanda doank!”Destina nyengir.

“Des, gimana hubungan lu dengan Andri?” tanya Tonny setelah membersihkan bajunya yang terciprat es.

“Ah, elu Ton… elu aja belom jawab pertanyaan gue, masak gue harus jawab pertanyaan elu?” sergah Destina.

“Iya… iya… gue udah nembak dia, tapi dia belum kasih jawaban. Puas?” tukas Tonny.

“Oh…. Gitu. Hubungan gue sama Andri baek-baek aja kok.” Kata Destina. Setelah diam beberapa saat ia berkata lagi, “Ton, elu kudu semangat. Jangan nyerah, gue yakin kalo Lia bakal nerima elu.”

“Sok tahu!” jawab Tonny setengah males.

“Yee…. Gue kan sohib elu. Ya gue harus mendukung elu 100% donk! Khan elu juga yang dulu mendukung gue dan Andri sampai bisa jadian.” Jelas Destina.

Tonny terkesiap. Ada desiran aneh yang menjalari perasaanya, penjelasan Destina barusan seperti ombak yang menghantam karang hatinya. Tonny garuk-garuk kepala yang gatal karena banyak pikiran. Ia segera menyeruput es jeruknya untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering kerontang.

***

“Kenapa kamu, Ton?” tegur Andri sembari mengambil gitar disamping Tonny. “Bengong mulu dari tadi.”

Tonny menatap lurus ke depan, kearah bunga-bunga mawar yang sedang merekah di taman rumahnya. Kemudian ia merogoh kantong celananya dan mengambil sekotak rokok. Ia menawarkannya pada Andri dan mengambil sebatang rokok untuk dirinya sendiri lalu segera menyulutnya. Setelah menghisapnya ia berkata, “Gue mikirin Destina.”

“Elu suka sama Destina?” timpal Andri.

Tonny menoleh cepat ke arah Andri dan mengerutkan dahinya dalam-dalam tanpa berkata apa-apa.

Andri memahami isyarat kebingungan dari tatapan Tonny, ia segera menyahut, “Maaf, gue cuma nebak aja.”

Tonny reflek mematikan rokoknya dengan menekankannya ke dalam asbak. Ia menghela nafas lagi dan berkata, “Lo nggak usah mikir macem-macem.” Tonny beranjak dari duduknya dan berdiri bersandar pada tiang beranda menghadap pada Andri. “Gue nganggep Destina udah seperti adik gue sendiri. Lo tahu kan kalo gue udah temenan ama dia semenjak TK. Gue percaya elo bisa menjaga dia karena elo teman baik gue. Gue harap elo gak akan pernah nyakitin dia.” Mata Tonny berkilat-kilat penuh kesungguhan.

Andri terdiam, namun tak urung dia mengangguk pelan. Ada kecamuk hebat di hatinya.

“Bagaimana dengan Lia?” tanya Andri.

Tonny mengedikkan bahunya lalu berkata, “Sebenarnya itu cuman alasan gue aja. Sebenarnya gue sendiri belum menemukan gadis yang menarik hati gue.”

“Tapi kata Destina elo udah nembak dia?”

“Belum. Gue bohong.” Tonny melangkah mendekati Andri dan memegang bahunya, “Lo jangan beritahu Destina ya?”

Andri mengangguk dan tersenyum, “Oke.”

“Eh, masuk ke dalam yuk. Kita lanjutin lagi ngetik Laporan Praktikum kita.” Ujar Tonny. “Elo belum mematikan komputer gue khan?”

“Belum. Lo masuk dulu aja, gue masih pengen ngadem disini.”

“Ya udah, gue masuk dulu.”

“Oke.”

Setelah Tonny masuk ke dalam, Andri termangu sendiri dengan berbagai macam pikiran dibenaknya. Ada beribu rasa bersalah yang menyelimutinya. Ia tak punya keberanian mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya selama ini kepada Tonny. dihisapnya rokok yang terselip di jarinya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, berharap agar perasaan bimbang dihatinya segera menghilang. Haruskah ia mengatakannya pada Tonny? Akankah Tonny mengerti?

Andri menatap senja sore ini dengan hati yang resah. Rasanya kursi di teras rumah Tonny yang didudukinya kini sangat tidak nyaman. Ia beranjak ke dalam rumah, ke kamar Tonny.

Cklek!

Tonny tersentak kaget dan menoleh kearah pintu kamarnya. Sedetik kemudian, muncul Andri dengan muka kusut dan rambut yang awut-awutan. “Eh, kenapa lu, Ndri? Kayak orang stress aja muka lu.” Tonny beranjak dari depan komputer dan berjalan menghampiri Andri. Tiba-tiba ….

Bug!

Ough! Andri terbelalak menyadari apa yang dilakukan Tonny. Ia jatuh tersungkur, meringis menahan sakit karena pukulan Tonny yang mendarat di perutnya. “Apa-apan sih, lu?” tanya Andri kebingungan sembari memegangi perutnya yang masih sakit. Ia masih terduduk di tempat ia terjatuh.

“Seharusnya gue yang tanya sama elo!” teriak Tonny. “Apa ini, hah??!” Tonny mengacungkan disket di tangannya.

“Itu khan disket gue.” Sergah Andri.

“Dan elo pasti tahu banget isinya, kan?” tuding Tonny.

Andri terdiam terpaku. Wah, gawat nih, batinnya. Bisa mampus gue, keluh Andri dalam hati.

“Lo pasti udah membaca isinya.” Ucap Andri dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

“Dan gue butuh penjelasan atas semua yang elo tulis di disket ini.” Suara Tonny bergetar menahan amarah.

“Gue udah putus ama Destina, Ton.” Andri bangkit dari lantai dan duduk di kursi samping ranjang. “Setiap Destina bercerita tentang masa kecil kalian, saat-saat kalian menghabiskan waktu bersama, gue berpikir bahwa gue nggak berhak merebut semua itu dari kalian. Perasaan Destina sangat kuat terhadap elo, meski dia nggak pernah mengakuinya ke gue, gue bisa merasakannya. Dan … sebaliknya, cerita gue dan Lia. Dia juga temen gue semenjak kecil.” Andri menatap Tonny dalam-dalam, kemudian melanjutkan, “Butuh seribu keberanian untuk mengungkapkan semua ini, dan gue cuman menyimpan seluruh perasaan gue di disket itu.”

“Brengsek! Elu udah mempermainkan Destina ya?” bentak Tonny sambil menggebrak meja di depannya. “Itu semua hanya karangan elu sendiri, kan?” tuding Tonny berapi-api.

“Tidak, Ton!”

“Jangan bohong! Tahu apa elu tentang perasaan gue?” suara Tonny meninggi.

“Gue emang nggak tahu apa-apa. Tapi asal elo tahu ya, hanya orang yang bener-bener buta yang gak bisa melihat tatapan ‘aneh’ elo pada Destina. Bahkan elo sendiri buta karena nggak bisa menyadari perasaan elo sendiri.” Andri meluapkan amarahnya dengan mendorong tubuh Tonny keras-keras.

Tonny terpental ke belakang dan jatuh ke atas ranjang. Ia terdiam, pikirannya sibuk mencerna kata-kata Andri barusan. Jika kata tlah terlontar, biarlah ia lebur menjadi udara yang samar. Suatu saat ‘kan tiba waktunya ia kembali, menuntut eksistensinya untuk dimaknai. Terngiang, tercerna dalam pemikiran panjang, walau kadang tak berujung pada apa-apa. Tonny memejamkan matanya ketika Andri pergi meninggalkannya dan membanting pintu kamarnya. Ia benar-benar lelah memikirkan semua ini. Kepalanya yang tiba-tiba penat memaksanya untuk tetap berada diatas ranjang itu. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

***

….. memang kau sahabat dekatku selalu dan bukanlah kekasihku. Haruskah kuucapkan tiga kata : aku cinta kamu.

Tonny termenung di depan jendela kamarnya, menatap titik-titik air hujan yang menerpa kaca jendela kamarnya. Matanya lurus menatap ke arah kolam yang dipenuhi air hujan. Rasanya rindu sekali pada suara Destina, akhir-akhir ini Destina seperti menghindarinya. Ia sendiri masih bimbang dengan perasaannya, mirip syair lagu milik Band Caffein yang kini tengah mengalun di ruang kamarnya. Ah, peduli apa dengannya, pikiran Tonny masih kusut.

Kriiing….. kriiing………..

Tonny tersentak mendengar dering telepon. Ia beranjak malas dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri pesawat telepon di meja samping tempat tidurnya.

“Halo?” jawab Tonny.

“Hallo, Ton. Ini gue, Destina. Tolongin gue, dong!” suara di seberang terdengar bergetar.

“Halo? Des,… elu dimana sih? Suara elu kok kecil banget?”

“Hah? Apa Ton? Gue nggak denger. Hujannya deres banget.” Sahut Destina sambil berteriak, “Ton, tolong jemput gue di stasiun ya? Mobil gue macet. Gue tunggu sekarang, pliiss.”

“Oke. Tunggu disana.” Jawab Tonny akhirnya.

Setelah ia meletakkan gagang telepon ia bergegas menyambar kunci mobilnya diatas meja belajarnya dan segera meluncur ke arah stasiun.

Hujan terlalu deras hingga jalanan tergenang air. Sulit mengendari mobil dalam situasi seperti ini, sementara hujan deras hampir mengaburkan pandangan. Ditambah petir yang menyambar-nyambar, mengesankan sekali bahwa hujan hari ini benar-benar tak ingin kompromi.

Terlalu sulit menemukan sosok Destina dalam keadaan begini. Tonny melihat mobil Destina dari kejauhan, ia segera mengurangi kecepatannya dan menepikan mobilnya di pinggir jalan tak jauh dari mobil Destina.

“Ton!” seru Destina seraya melambaikan tangannya. Ia berdiri di depan wartel dekat stasiun untuk berteduh disana.

Tonny segera mendekatkan mobilnya ke pelataran wartel dan membukakan pintu untuk Destina, membiarkan Destina masuk.

“Makasih ya, Ton.” Ujar Destina setelah berada di dalam mobil.

Tonny segera mengambil handuk di dalam dashboard mobilnya dan menyodorkannya pada Destina. Tonny menatap lekat-lekat ketika Destina mengeringkan rambutnya dengan handuk. Aku rindu kamu, Des. Pikir Tonny resah. Jangan, jangan melakukan hal yang bodoh, batin Tonny.

Tonny berpaling ke arah kemudi, berusaha berkonsentrasi untuk menjalankan mobilnya kembali. Destina berusaha mengabaikan debaran yang bergemuruh di dadanya ketika Tonny menatapnya. Ia memperhatikan wajah Tonny yang menegang dan ingin sekali menghapus ketegangan itu, namun ia mengurungkan niatnya.

Selanjutnya, keheningan menyeruak diantara mereka. Tak ada berusaha berbicara, hanya ada suara deru mesin mobil yang ditingkahi suara hujan dan petir yang menyambar-nyambar.

“Ton, gue mo ngomong.” Ucap Destina memecah kesunyian.

“Oke, ngomong aja.”

“Minggu depan gue mo pindah ke Medan soalnya bokap pindah tugas kesana.” Suara Destina menyeruak bagaikan pisau yang mencabik-cabik tajam pendengarannya.

Hanya dalam hitungan detik Tonny tersentak dan menginjak rem mendadak seolah tersambar petir ia mendengar penuturan Destina.

“What?” tukas Tonny tak percaya. Matanya menyipit mengawasi raut muka Destina, hati kecilnya berharap akan menemukan segurat kebohongan yang terukir disana. Tapi ia kecewa karena tak ada secuilpun kebohongan di mata Destina.

“Maaf, gue juga baru tahu kemarin dari nyokap. Suer!” tegas Destina sambil mengacungkan dua jarinya. “Maaf Ton, tadinya gue langsung ingin memberitahu elo lewat telepon, tapi gue pikir sebaiknya gue ngomong langsung saja ke elo.”

Tonny lemas seketika. Wajahnya mencelos menahan gemuruh didadanya. Ia lalu berbalik menatap kemudi dan kembali melajukan mobilnya tanpa berkata sepatah katapun. Hatinya terasa campur aduk.

***

“Eh, Tonny. Mari masuk.” Sambut Andri setelah membukakan pintu. “Ada perlu apa sampai hujan-hujan begini main kerumah gue?” tanya Andri setelah Tonny masuk dan duduk di sofa.

“Habis jemput Destina di stasiun.” Jawab Tonny tanpa basa-basi. Ia kembali terdiam dan berusaha menekan kegundahan perasaannya.

“Ada masalah?” selidik Andri.

“Memangnya wajahku mudah dibaca ya?” sindir Tonny.

Andri hanya tersenyum.

“Minggu depan Destina pindah ke Medan.” Kata Tonny datar berusaha menyembunyikan perasaannya.

“Elu merasa kehilangan dia?” timpal Tonny.

“Pastinya dong! Dari kecil gue nggak pernah berpisah dengan dia.” Jawab Tonny cepat.

“Elu nggak ingin mengutarakan perasaan ke dia?”

“Untuk apa?” kata Tonny frustasi, “Toh dia tetap akan pergi! Lagian sejak dulu gue nggak pernah mempercayai hubungan jarak jauh.”

“Dasar keras kepala!” tukas Andri.

Duar!

Suara petir yang membahana membelah angkasa mengagetkan mereka berdua. Pikiran Tonny berkecamuk hebat, seburuk cuaca hari ini.

“Ya sudahlah, gue mau pulang.” Kata Tonny akhirnya setelah hening beberapa saat ditingkahi derasnya suara hujan.

“Nggak nunggu hujan reda dulu?” tanya Andri. “Istirahat dulu dikamar gue kalo lu mau.”

“Nggak usah, terima kasih. Mobilnya mo dipake bokap.”

“Oke, hati-hati di jalan.” Saran Andri saat berada di depan pintu.

“Alright!” sahut Tonny sembari melambaikan tangannya dan masuk ke mobil.

***

Tonny terbangun esok harinya ketika mendengar dering telepon. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan tangannya menggapai telepon diatas meja samping ranjangnya.

“Hallo, Tonny?” suara di seberang seperti tak sabar.

“Ya, ini gue. Ada apa, Ndri?” ujar Tonny sambil menguap lebar.

“Ton, gue tunggu sekarang di Rumah Sakit Umum ya? Cepat!” perintah Andri dengan tergesa-gesa.

“Lho, kenapa Ndri? Siapa yang ….?”

Tut! Tut! Tut!

Belum selesai Tonny bicara sambungan telepon telah terputus.

Tonny hanya bisa memandang gagang telepon di tangannya dengan penuh tanda tanya. Ia segera meletakkannya dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Setibanya di Rumah Sakit, Tonny mendapati Andri menunggunya di ruang tunggu dengan wajah yang tampak cemas sekali.

“Ndri, siapa yang sakit?” sergap Tonny.

“Destina.”

“Kenapa? Ada apa dengan Destina?” mendadak hati Tonny berdebar-debar keras. Tanpa sadar tangannya mengguncang bahu Andri.

“Kecelakaan.” Jawab Andri singkat. “Ayo gue antar ke kamarnya.”

Tonny merasa lututnya sangat lemas seolah tak bertulang dan ia jatuh terduduk di depan Andri. Andri segera memapahnya ke kamar Destina.

Tonny tertegun menatap gadis yang tergolek tak berdaya di ranjang Rumah Sakit ini. Wajahnya pucat pasi. Tak ada keceriaan diwajahnya sama sekali. Matanya terpejam, rambutnya terurai kusut masai. Ah, Destina…. Jika kau tahu perasaanku padamu.

Tonny masih termangu menatap wajah Destina lekat-lekat. Matanya sendiri kelam berkaca-kaca, namun ia tahan agar tidak pecah berderai. Kegundahan itu kembali menyusupi dadanya, ia beranjak dari kursinya dan berdiri di dekat jendela menatap keluar sana memunggungi Destina. Tak sanggup ia berkata-kata, tak sanggup ia melakukan apa-apa.

“Ergh..”

Tonny tersentak menoleh kebelakang saat mendengar erangan Destina, dengan cepat ia berjalan mendekati ranjang tersebut. “Des, Destina! Elu sudah sadar? Apanya yang sakit?” tanya Tonny.

Destina hanya menggeleng dan menatap Tonny, “Ton, malam itu gue bermaksud untuk …..”

“Ssst! Jangan banyak bergerak dulu.” Tonny meletakkan telunjuknya di bibir Destina. “Ya Tuhan, terima kasih. Gue sempet mengira gue bakal kehilangan elu….” Desah Tonny perlahan.

“Ton, gue gak jadi pergi ke Medan. Gue akan tetap tinggal di kota ini, tinggal di rumah Tante gue.” sahut Destina. “Gue terlalu takut untuk berpisah dengan elu.”

“Begitu juga gue, Destina.” Tukas Tonny cepat. “Bahkan gue takut menyadari perasaan gue sendiri kalo akhirnya gue bener-bener menyukai elo. Bukan sebagai teman, tapi bener-bener menyukai elo dari perasaan gue yang terdalam.”

“Oh, Good! Gue kira elo nggak merasakan perasaan yang sama dengan gue.” Desis Destina bahagia.

“Cepatlah sembuh, dan berbagilah musim ini denganku.” Kata Tonny lembut sembari mengecup punggung tangan Destina.

“Ya. Aku mau.” Destina mengangguk dan tersenyum.

Di ambang pintu, Andri merangkul bahu Lia yang menatap kearah Tonny dan Destina yang tenggelam akan perasaannya masing-masing.

“Berbagilah musim ini denganku.” Kata Andri sambil memandang Lia dengan tatapan yang menuntut jawaban.

Lia terkejut sembari membelalakkan matanya, namun tak lama kemudian ia mengangguk dan berkata, “Ya. Aku mau.” Lia tersenyum manis sekali.

8 responses to this post.

  1. Thanks bwt jempolnya…. hehe ….🙂

    Reply

  2. “Berbagilah musim ini denganku”
    Suatu cara menutup cerita yang segar dan mewakili sejuta kata sejuta rasa.setelah minggu-minggu yang melelahkan.
    Saya yakin pembaca akan ikut berbahagia membacanya.

    Reply

  3. “Berbagilah musim ini denganku”
    Kalimat penutup cerita yang cantik, yang bermakna sejuta rasa dan sejuta kata-kata indah, menghapus segala beban batin yang telah ditanggung selama berminggu-minggu.
    Saya sungguh-sungguh menyukainya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: