PERNIKAHAN BENING

2

Wanita.

Ah, persetan dengan kata itu!

Kata yang menjadi pukulan berat di benakku. Apakah kata itu memang menjadi kelemahan bagi pria? Termasuk diriku kah? Tidak! Itu hanya mengingatkanku pada rasa pedihku. Apa yang kupikirkan tentang wanita? Pengkhianat, penggoda iman. Itulah yang kualami. Wanita yang kucintai pergi meninggalkan aku. Membawa dampak buruk di kehidupanku. Sangat buruk, bahkan untuk seorang hawa yang kembali mendekatiku, tak kuhiraukan sama sekali. Pengganggu, pikirku. Kutakut tertipu lagi. Takut kecewa lagi, takut hancur untuk kedua kali. Dan berulang kali kata itu kembali untuk meracuniku. Membayangi, menghantui pikiranku. Pernikahan. Pahit! Begitu aku memvonisnya. Ya, betul, aku telah trauma dengan pernikahan meski belum sempat aku mengecapnya.

***

Dadaku sesak. Penuh luapan rasa gembira. Kubayangkan hari ini begitu penuh kebahagiaan. Apakah lidahku akan kelu untuk mengucapkan akad nikahku nanti? Dadaku berdebar-debar menanti saatnya tiba. Yashinta, wanita yang kucintai akan menjadi milikku tak lama lagi. Menjadi istriku.

Cantik. Bagai peri di tengah hutan. Sungguh mempesona di tengah kemilaunya hiasan ruangan dan sedapnya aroma masakan. Apa itu? Ada semburat kesedihan terlintas di wajah cantik itu. Ah, kenapa harus dipikirkan. Toh hari ini adalah hari bahagia kami. Yashinta begitu memikat. Sosok wanita dihadapanku yang kelak akan menjadi istriku. Pendamping hidupku.

“Bisa dimulai?” suara penghulu menanyai kami. Aku memandang Yashinta. Ia tertunduk dalam tak memberi tanda apa-apa, bahkan tangannya menggenggam erat-erat. Aku tak mengerti. Urung kuanggukkan kepalaku. Otakku dipenuhi tanda tanya, ada apa denganmu, Yashinta?

“Ben…. Aku …. Aku…” dia mendongak. Suaranya tersendat dan kedua matanya menatap kearahku, kelam dan berkaca-kaca. Kedua tangannya tergenggam erat di depan dadanya. Kuanggukkan kepala mengisyarakatkan agar dia mau bicara.

“Maafkan aku, Ben. Aku tak bisa meninggalkan keyakinanku. Aku ….. maafkan aku.” Yashinta terisak pelan.

Kujulurkan tanganku meraihnya. Dia menggenggam tanganku dan…. Benda apa ini? Astaghfirullah! Tertegun aku menatap seuntai kalung di genggamannya. Kalung yang dulu selalu ia bawa ke acara misa di gereja. Mataku liar menatapnya. Dadaku bergemuruh kencang. Bagai ombak lepas, aku tak sanggup berkata apa-apa. Apa yang terjadi? Bukankah dia setuju bersyahadat untuk pernikahan ini? Dia sendiri yang menghendaki, aku tak memaksanya.

Yashinta menangis dalam. Para tamu bergemuruh bingung. Papa mamanya menghiburnya. Keluarga kami sepakat untuk berunding sebentar di ruang keluarga. Otakku benar-benar buntu, tak tahu harus berbuat apa. Pak Samuel, papa Yashinta terus mendesakku agar kami menjalankan keyakinan masing-masing. Karena Yashinta begitu teguh dengan pendiriannya. Lantas, untuk apa pernikahan ini?

“Untuk tetap saling menghargai, kita akan tetap menjalankan akad nikah hari ini. Tetapi sebaliknya, besok Nak Bening juga akan mengikrarkan janji nikah di Gereja.” Ujar Tante Yuli, mama Yashinta.

“Maaf, Bu. Bukannya kami menolak. Tapi sebelum ini Yashinta sudah sepakat untuk ikut dengan keyakinan Bening. Betul khan Yashinta?” ibuku bertanya.

“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Matanya masih basah dengan bulir-bulir bening itu.

“Atau begini saja, karena Yashinta sudah tidak bisa mengikuti keyakinan Nak Bening, bagaimana kalau Nak Bening saja yang mengikuti keyakinan Yashinta?” Pak Samuel angkat bicara untuk memberi solusi. Tapi itu bukan solusi, dengan kata lain aku harus rela murtad untuk menikah dengan Yashinta. Mustahil! Oh, Yashinta…. Kenapa kamu tega berbuat begitu padaku. Kenapa ini mesti terjadi di hari pernikahan kami?

“Tidak. Tidak akan pernah.” Tukas ibuku cepat.

Pembicaraan ini tak berujung. Sementara dadaku terus bergemuruh menunggu putusan, meski aku sudah tahu dari nada bicara ibuku yang tegas. Aku sudah memutuskan untuk tegar, apapun yang terjadi. Panas menjalari kelopak mataku. Kupandang Yashinta dalam-dalam. Dia hanya menunduk.

Untuk beberapa waktu, kami semua terdiam. Berpikir keras. Tante Yuli dan ibuku berpandangan dan mengucapkan sepatah kata bersamaan.

“Batal.”

Ya, genap sudah kepedihanku. Perasaan sedih memukul-mukul dadaku. Bagaimana bisa ini terjadi, Ya Allah! Semua berubah dalam sekejap. Tadinya suasana bahagia mengelilingiku dan secepat membalikkan telapak tangan mendadak beribu lara menyergapku. Menusukku. Membunuh jiwa dan perasaanku. Pedih sekali.

Allah, dimanakah Engkau? Tahukah Engkau bahwa aku sakit? Pupus sudah harapanku. Keluargaku pulang menanggung malu. Lunglai tubuhku seolah tak bertulang. Secuil perasaan lega menyelinap. Aku masih memeluk Islam. Kapanpun, akan kujaga dan tak akan kulepas. Alhamdulillah……

Berbayang hari kelam di hatiku

Mengukir waktu demi waktu

Sendiri ………

Tak mengerti ……….

Bercermin sejenak pada nurani

Lalu ………

Hampa menyertai diri

Kosong dan sepi

Meski berdiri di tepian hati

Tak kuasa ku tolak hadir-Mu

Setia mengiring setiap langkahku

Ya Robbi ……..

Siapa aku?

***

Tiga tahun berlalu sejak peristiwa memalukan itu. Luka ini belum sembuh. Meski berulang kali kucoba untuk melupakannya. Kutahu Yashinta sudah menjadi milik orang lain, menikah dengan seseorang yang satu keyakinan dengannya. Semua berlalu begitu cepat, masa indah, masa pilu, pergi berlalu.

”Assalamualaikum.” suara perempuan itu mengejutkanku. Lagi-lagi aku melamun di penghujung sore.

”Waalaikum salam.” aku bergegas berdiri menuju pintu.

Daun pintu terbuka. Sesosok anggun berkerudung berdiri disana, menjulurkan sebuah amplop putih kepadaku.

”Ben, aku mengantar undangan buat kamu.”

Kuterima surat itu.

”Sudah dulu, ya? Aku pulang. Assalamualaikum.” sekilas senyum menghiasi wajahnya sebelum dia memblikkan badan dan berlalu meninggalkan halaman rumahku.

”Wa’alaikum salam warohmatullahi wabrokatuh.” balasku pelan. Kutatap sesosok anggun itu hingga menghilang di tikungan. Gangguan kecil, pikirku. Tidak! Tidak boleh! Aku tak boleh memikirkannya.

Sudah dua kali Dian – gadis berkerudung itu – berdiri di depan pintu dalam sebulan ini. Selalu sama. Menyodorkan kertas undangan itu padaku. Pengajian rutin dua minggu sekali. Dan aku sama sekali belum ingin memenuhinya, tapi ia tak pernah jera.

Kupandangi amplop itu lekat-lekat. Dian antusias sekali ingin mengajakku ke pengajian ini. Lama aku tak mendekatkan diri pada-Nya. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Setelah kejadian memalukan itu, aku melarikan diri ke kota Bandung ini. Bekerja keras, berjuang keras melupakan peristiwa menyakitkan itu. Tenggelam dan larut, menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaanku. Perkenalan dengan Dian terjadi satu bulan setelah aku menetap di sini.

***

”Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak.” asistenku menegurku. Aku menoleh. Kudapati sesosok biru berdiri di belakangku. Penampilan serba biru, dari baju, kerudung sampai sandalnya pun berwarna biru. Sungguh menarik perhatian diantara hamparan hijau kebun teh ini. Anggun sekali gadis ini, pikirku.

”Ada yang bisa saya bantu?” aku tersadar dari lamunanku dan mencoba untuk bertanya pada gadis itu.

”Nama saya Dian. Saya putri pemilik kebun teh ini. Bisakah Anda mampir kerumah? Bapak menunggu Anda.” katanya sopan. Sekilas dia melirik kearahku. Menunggu jawabanku. ”Itu kalau Anda tidak sedang sibuk.

”Baiklah, mari.” jawabku.

Dian tersenyum manis sekali. Dia memutar badannya untuk berjalan di depanku. Aku dan assistenku mengikutinya dari belakang. Sebenarnya aku sudah tahu rumahnya, aku pernah kesana satu kali. Rumah yang asri dan nyaman itu milik Pak Burhan, ayah gadis ini. Dan aku sama sekali tidak tahu kalau Pak Burhan memiliki seorang putri yang cantik sekali.

Setibanya disana Pak Burhan menyambutku.

”Oh, Nak Bening. Mari, silakan duduk.” katanya mempersilakan.

”Tante Dian! Tante, tante, itu Pak Insinyur yang diceritakan kakek ya?” tanya gadis mungil yang berlari menghampiri Dian dan menggelendot manja di pelukan Dian. Dian hanya tersenyum sembari mengusap kepala balita itu. Aku tak mengalihkan pandanganku darinya. ”Tante tahu nggak? Kalau udah gede nanti, Dinda pingin jadi insinyur.” ucapnya lancar pada Dian. Manja sekali. ”Emangnya, jadi insinyur itu enak nggak sih?” desaknya lagi. Dian hanya mengangguk dan tersenyum.

”Kalo mau tahu, Dinda tanya langsung aja sama Pak Insinyur.” katanya seraya menunjuk kearahku. Aku mencoba tersenyum memandang Dinda, gadis mungil itu. Dinda malu-malu menghampiriku. Mendadak berhenti sebelum sampai ke tempatku. Berdiri mematung memandangku. Ragu-ragu, menoleh kembali pada Dian. Dian hanya mengangguk dan tersenyum. Dia kembali memutar kepalanya menghadapku.

”Ayo, sini Dinda.” aku melambaikan tanganku kearahnya. Tapi Dinda malah berbalik dan setengah berlari menghampiri Pak Burhan kemudian duduk nyaman di pangkuan kakeknya. Aku perhatikan Dian berlalu masuk ke ruangan lain.

”Ini cucu saya dari Dina, kakaknya Dian. Dina sudah berpulang satu tahun yang lalu terserang kanker rahim. Ayah Dinda seorang pengusaha sukses di Palembang. Dan kami memutuskan untuk merawat Dinda disini. Dinda memang dekat dengan Dian, mungkin karena Dian mirip dengan ibunya.” cerita Pak Burhan panjang lebar.

Kualihkan pandangan ke Dinda, dia masih memandangiku dengan malu-malu. Tapi kali ini dia tersenyum, ”Om ganteng deh! Om namanya siapa?” tanyanya riang sekali. Aku tersenyum geli.

”Bening. Bening Pratama. Panggil saja Om Ben.” kataku.

”Om Ben.” Dinda manggut-manggut mengulang namaku. Dia mulai berceloteh, bertanya ini dan itu padaku, aku menanggapinya dengan senang hati.

”Mita makan dulu, yuk! Sini ikut Tante Dian, Om Ben dan kakek ada urusan penting.” suara Dian memanggil keponakannya.

Dinda turun dari pangkuan kakeknya. ”Udah dulu ya, Om. Dinda mau makan dulu..” ujarnya polos sambil melambaikan tangannya lalu berlari menghampiri Dian. Dian mengangguk dan tersenyum padaku.

”Maaf lho, Nak Ben ada gangguan kecil. Mari kita lanjutkan pembicaraan kita.” lelaki setengah baya namun masih segar itu segera mencuri perhatianku setelah lama aku terpaku menatap kepergian Dian dan Dinda.

***

Aku terbangun saat adzan magrib bergema. Masya Allah, rupanya aku ketiduran di sofa karena melamunkan Dian. Kutatap undangan di atas meja itu dengan hati ragu. Baiklah, sekali-kali aku akan memenuhinya. Aku bangkit menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu, mencoba untuk menghadap pada Illahi.

Pukul setengah sepuluh malam. Mataku tak kunjung terpejam. Aku beranjak keluar rumah. Menghirup udara malam, menghilangkan kepenatan di kepalaku. Ketika sayup-sayup terdengar suara dari masjid, kulangkahkan kakiku mendekat padanya.

Suara perempuan mengaji. Melantunkan ayat-ayat suci dengan pelan namun merdu. Kusimak suara itu, mencoba memahami apa yang ingin disampaikan. Tiba-tiba tubuhku tergetar hebat. Ada apa denganku? Siapa pemilik suara merdu itu? Kuseret kakiku menjauhi masjid, tak ingin aku mempedulikan semua itu. Dadaku berdegup kencang. Siapa? Siapa? Benakku penuh dengan tanda tanya.

***

Meluap. Suasana penuh sesak oleh orang-orang yang hadir di halaman masjid pada hari Minggu ini. Acara pengajian dimulai, suasana berangsur hening. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alqur’an. Seseorang naik ke mimbar. Sosok itu tak asing. Dian mulai melantunkan ayat suci Alqur’an. Tiba-tiba tenggorokanku tercekat. Susah payah kutelan ludah untuk membasahinya. Kupasang telingaku baik-baik. Ya, aku tahu sekarang. Pemilik suara merdu tadi malam adalah Dian.

Tubuhku kembali tergetar hebat. Tidak! Tidak! Ini semua hanya akan menghancurkan dinding keangkuhan yang telah lama aku bangun. Tidak! Kumohon, jangan diteruskan! Jerit batinku. Hatiku, kembalilah!

Keringat dingin mengucur deras dari keningku. Berangsur-angsur kegelapan menyelimutiku. Gelap, dan semakin gelap. Pekat itu menguasai. Aku tak sadarkan diri.

***

Satu bulan berlalu sejak hari itu. Hari Minggu dimana aku jatuh pingsan dan tak sadarkan diri. Panitia pengajian melarikanku ke rumah sakit terdekat, karena pertolongan pertama mereka gagal dan aku tak kunjung siuman. Dokter tak mendeteksi penyakit yang berat, hanya anemia dan terlalu kecapekan. Namun aku merasa sangat lemas dan seperti tak punya tenaga. Akhirnya aku mengambil cuti dari pekerjaanku dan memutuskan untuk memulihkan kesehatanku di Jakarta, di rumah orang tuaku.

Satu bulan sudah aku tak bertemu Dian, dan aku juga tak berusaha untuk menghubunginya. Tapi entah kenapa, setiap hari aku merasa semakin merindukannya. Wajahnya, senyumnya. Dan semua itu sangat menggangguku.

Kutahu kau memiliki segalanya. Yang mampu meruntuhkan hatiku. Sebenarnya ku tak ingin mengenalmu. Apa mungkin kau sungguh hadir utuh. Membebaskan aku. Melepaskan aku.

”Siapa gadis itu?” suara Ibu mengejutkanku.

Aku gelagapan diserang pertanyaan seperti itu, namun aku tak bisa berbohong.

”Dian. Putri Pak Burhan, pemilik kebun teh di Bandung.” sahutku.

”Ibu tahu, Ben. Sejak kepulanganmu, kau sering melamun. Jelas sekali tergambar di wajahmu, dan Ibu berharap kau jatuh cinta pada gadis yang tidak salah.”

Aku tertunduk malu. Ah, aku memang tak bisa menyembunyikan apapun dari Ibu.

”Dian baru lulus kuliah, Bu. Umurnya enam tahun lebih muda dariku. Dan, ….. dia berjilbab.” aku menjelaskan.

Ibu hanya manggut-manggut dan tersenyum. Manis sekali.

”Oke. Besok kita ke Bandung.”

”Maksud Ibu?” tanyaku tak mengerti.

”Ya, ke Bandung. Melamar Dian untukmu.” jawab Ibu tanpa basa-basi.

Tenggorokanku serasa tercekik. Tapi dadaku membuncah senang. Tak sadar kuanggukkan kepalaku tanda setuju dan senyum mengembang lebar di wajahku.

***

Kini aku bebas mencintainya. Bebas mencintainya sepenuh jiwa dan ragaku. Karena dia milikku sekarang, dia telah menjadi istriku. Tak ada gunanya tembok hatiku kubangun. Dian telah meruntuhkannya, tanpa desakan, tanpa paksaan. Dia benar-benar wanita istimewa. Tak kusangka aku bisa menikahinya.

Terima kasih, Ya Allah. Maha Suci Engkau. Tuhan yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Anugrah-Mu indah. Wanita ini bidadari, wanita yang tak melarikan diri ketika pembacaan akad nikah. Terima kasih, Tuhan. Terima Kasih, Ya Allah. Kasih-Mu indah. Akan kujaga pendamping hidupku selamanya.

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: