BELAJAR DARI ALAM SEKITAR

Image

Mari sejenak kita duduk melepaskan diri dari kepenatan rutinitas kita untuk sekedar mengamati alam sekitar. Banyak hal yang luput dari pendengaran, penglihatan, pemikiran dan perasaan kita. Ya…..belajar dari alam, belajar dari hal yang kita anggap sepele yang mungkin kita tidak sadar.

GARAM

Garam merupakan benda yang tak asing di lidah kita, setiap masakan di keseharian kita mengandung garam. Ternyata garam ini oleh Allah memiliki refleksi bagi insan yang mau berfikir. Garam dalam kehidupan kita diibaratkan sebagai ”nasihat”. Kenapa nasihat? ”Garam ibarat nasihat bila ditaburkan pada hati yang tidak sehat rasanya akan perih tapi menyembuhkan, apabila ditaburkan pada hati yang sehat akan menyegarkan”

Hati yang tidak sehat akan muncul rasa dongkol, menolak, marah, sebal, bahkan mencari pembenaran apabila datang nasihat. Belajar sama dengan proses, begitu pula belajar kehidupan, belajar menjadi baik juga membutuhkan proses dan waktu. Namun apabila datang waktunya nasihat itu akan menyadarkan kita bahwa kita memang tidak sebaik bayangan kita. Apabila hati sehat, saat menerima nasihat ia akan menjadi penyegar hati agar tidak busuk. Itulah pelajaran garam.

KATA TERIMA KASIH

Seiringnya ucapan itu terucap. Setiap kali berinteraksi dengan seseorang yang kita anggap memberikan manfaat, kita ucapkan terima kasih. Coba kita pisahkan kata tersebut menjadi: TERIMA KASIH = TERIMA dan KASIH.

Subhanallah…ternyata kata itu jelas sekali artinya. Jika semua paham maka tidak akan ada orang yang pelit, kikir dan bakhil. Allah memberikan nikmat kepada kita bermacam-macam dan kita ”TERIMA” selanjutnya tidak berhenti disitu, dilanjutkan dengan kata ”KASIH”. Berarti kewajibannya, nikmat itu tidak boleh disimpan untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.

Ibarat pohon, pohon memproses air dan sinar matahari bukan untuk sekedar memperbesar batang dan memperbanyak daunnya, akan tetapi pohon yang bijaksana akan menumbuhkan yang lebat untuk makhluk lain.

Bukan disebut mulia apabila sukses hanya untuk diri sendiri. Mulia berarti kita menjadi bagian dari jalan kesuksesan orang lain. Kebahagiaan bukan dinilai dari seberapa banyak orang mengenal kita tapi seberapa banyak orang mendapat manfaat dari mengenal kita.

Jadi kesuksesan harta, kekayaan, ilmu, kepandaian yang kita dapatkan harus dialirkan disekeliling kita sebagai wujud syukur dan pemahaman kita terhadap kata ”TERIMA” dan ”KASIH”.

GENTENG

Tak perlu loading lama untuk membayangkan sebuah atau seratus genteng karena benda satu ini sangat dekat disetiap waktu dan kesempatan. Sungguhpun hanya genteng sangat besar pula hikmahnya. Kita pelajari seluk beluk genteng.

Mulai dari proses pembuatan genteng berasal dari tanah merah pinggir sungai yang mengendap kemudian diangkut truk ke tempat pembuatan genteng. Tanah tersebut diaduk-aduk lama dilanjutkan pencetakan hingga dibakar di bara api yang panas berjam-jam. Tidak berhenti di situ, genteng akan rapuh apabila tidak dijemur di atas sinar matahari untuk beberapa hari.

Nah, sama dengan pemimpin, tidak ada pemimpin dadakan tanpa memiliki latihan memimpin hal kecil misal memimpin regu, kelompok, rombongan, organisasi atau miminal memimpin diri sendiri. Semakin pemimpin diterpa masalah maka akan semakin teruji kearifannya, mampukah ia menyelesaikan masalah dengan baik atau tidak.

Saat genteng baru dipasang di rumah tentu warnanya sangat cantik dan berbeda dengan sekelilingnya. Begitu pula saat pemimpin menjadi pemimpin baru, dia akan menjadi sorotan orang sekelilingnya. Hal sekecil apapun darinya dibicarakan dikupas secara tajam setajam silet.

Seiring dengan waktu detik berganti menit, menit berganti jam, siang berganti malam, hari berganti bulan, bulan berganti musim, musim berganti tahun. Cobaan berupa panas matahari dan dinginnya hujan menerpa genteng ini. Tak pernah ada ceritanya saat hujan turun genteng lari ketakutan berteduh menghindari hujan. Genteng selalu setia dengan apa yang ia lindungi. Tak ubahnya pemimpin, apabila terjadi kelaparan pemimpin-lah yang pertama kali merasakan dan apabila harus kenyang pemimpin-lah yang paling akhir merasakannya bukan malah sebaliknya atau bahkan malah berebut dengan bawahannya.

Suatu ketika genteng pun retak, kemudian jatuh berkeping keping tentu saja akan digantikan oleh genteng yang baru. Bagaimana nasib genteng tersebut? Ternyata pecahan genteng itu dibuang dionggokkan di belakang rumah, terpaksa genteng ini pensiun dini karena tak bermanfaat lagi. Bagai pemimpin yang melalaikan tugas akan dilengserkan tanpa peduli juga tidak akan pernah dipercaya lagi menjadi pemimpin.

NYAMUK

Allah menciptakan nyamuk sepertinya sebagai sindiran kepada kita. Pernahkah kita menelusuri jejak drama kehidupan nyamuk yang sangat mengharukan itu? Pernahkah kita mencoba simpati atau berempati betapa keras dan kasarnya kehidupan nyamuk, melebihi kerasnya kehidupan anak jalanan sekalipun..! ah betapa mengharukan sekali.

Lihatlah! Nyamuk itu diciptakan dengan nyali pemberani, lebih berani dari peserta uka-uka. Drama nyamuk dimulai dari ketika nyamuk merasa gelisah karena perutnya keroncongan. Nyamuk mendekati sasaran yang jauh lebih besar berjuta-juta kali lipat dari tubuhnya. Lewat sensornya ia meneropong bagian darah terbanyak. Meski kepakan sayapnya menimbulkan suara, tak ada pilihan untuk mundur. Perlahan hinggap mencoba menusukkan mulutnya, diantara debaran hidup dan mati. Ia mempertaruhkan nyawa untuk bisa makan.

Tidak pernah ada dalam kamus sejarah, nyamuk menikmati saat proses makan. Adakalanya ia akan dihantam dengan lima jari. Tak berhenti di situ, saat ia berhasil melarikan diri ia diburu tak hanya 5 jari tapi 10 jari. Mungkin sebaiknya kita mengalah menyadari kehebatannya dengan mengikhlaskan sepersekian mili dari darah kita. Tapi tidak…..! Sudah tangki penuh, kecepatan melambat tepukan mengejutkan menghacurkan tubuh mungilnya. Tengoklah tembok-tembok yang berwarna merah itu bukti dari dendam kesumat kita.

Nyamuk memang dramatis sekali. Betapa kita kalah dengan nyamuk. Kita bertopang dagu menunggu rezeki tidak berusaha menjemput rezeki. Kita tak berusaha menjadi mahasiswa prestatif, mahasiswa terbaik karena merasa keterbatasan finansial, sarana prasarana. Jangan-jangan kita tidak mampu bukan karena kita tidak mampu tapi karena kita bersu’udhon dengan diri kita. Kita ambil pelajaran nyamuk, jika nyamuk bisa senekat itu maka kita juga harus bisa nekat. Coba kita refleksikan, nyamuk saja mempertaruhkan nyawa untuk makan, pasti kita juga bisa berjuang dengan apa yang kita punyai untuk cita-cita atau tujuan kita.

KUPU-KUPU

Suatu ketika ada seorang kuli bangunan yang bekerja di pinggir sungai. Adzan dhuhur pun bergema, bergegas kuli ini untuk menunaikan sholat. Usai sholat, ia pun duduk istirahat di bawah pohon. Terik matahari membuatnya berniat untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada benda yang membuatnya penasaran. Benda itu bergerak-gerak, dan muncul warna yang indah dengan belum sempurna. Oh ternyata itu kepompong!

Ditungguilah kupu-kupu yang hendak keluar. Kuli itu penasaran kupu apa gerangan yang akan keluar. Detik demi detik, menit demi menit membuat kuli bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk menolong hewan mungil ini. ”Ah….akan kubantu kau kupu”, bisiknya dalam hati. Diambilnya pisau kecil dan ia buka kepompong itu. Alhasil kupu pun keluar dengan sempurna. Namun ada yang aneh, kupu itu tak pula terbang. Kuli mencoba menghalaunya, tak pula terbang. Hingga jenuh, akhirnya kuli itu kembali bekerja dengan beribu pertanyaan. ”Kenapa kupu itu tidak terbang?”

Sahabat, ternyata kupu-kupu keluar dari kepompongnya butuh waktu dan proses. Kupu-kupu akan terbang apa bila ia keluar dengan natural bukan cara instan dan bantuan. Ibarat kita pula, kesuksesan bukan diambil dengan cara pintas yang dianggap pantas. Tapi butuh pengorbanan, lelehan keringat serta derai air mata. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, dan Dia akan memberi apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Coba kita renungkan cerita berikut:

”Aku minta pada Allah setangkai bunga segar nan indah, tapi Dia berikan kaktus berduri. Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik, tapi Dia berikan ulat berbulu. Aku sedih, kecewa dan protes betapa tidak adilnya ini. Namun kemudian, kaktus itu berbunga indah, bahkan sangat indah. Ulat itupun tumbuh mejadi kupu kupu yang amat cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan tapi Dia memberikan apa yang kita butuhkan. Kadang kita kecewa, terluka, tapi jauh diatas segalanya, Dia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: