Kufur Nikmat Menyebabkan Rahmat Menjadi Laknat

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah ? Tiada orang yang merasa aman dari azab Allah kecuali mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai negeri sesudah penduduknya bahwa kalau kami menghendaki tentu kami azab mereka karena dosa-dosanya. Dan kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar?”

Sebelum turun peringatan itu Allah ‘Azza wa Jalla lebih dulu berjanji akan menurunkan berkah-Nya dari langit dan dari bumi pada suatu negeri yang masyarakat-nya beriman serta bertaqwa sebagai sarana pemakmuran dan penentraman kehidupan. Namun sayangnya kebanyakan manusia cenderung melalaikan peringatan itu dan mengingkari nikmat Allah. Sehingga turunlah ketetapan hukum-Nya terhadap mereka yakni siksaan dan hinaan sehina-hinanya di dunia dan akhirat.

Ayat pembuka di atas adalah peringatan kepada siapa saja yang lalai dalam mengemban amanah Allah untuk senantiasa menjaga kehidupan dari hal-hal yang merusak. Alam adalah nikmat sempurna Allah SWT yang dipersembahkan kepada umat manusia. Karena itu manusia wajib mensyukurinya dengan cara memelihara kelestariannya serta mempertahankannya sekuat mungkin dari upaya-upaya destruktif.

Alam ini penuh dengan semilyar pesona dan keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa karena itu hanya dipersembahkan pada manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya yang paling istimewa dari segi jatah pemberian rezeki dari penciptanya. Bukankah Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik ciptaan diantara ciptaan-Nya yang lain? Bukankah lama dan seluruh habitat tempat manusia berdiam telah diformat dalam keadaan “siap pakai” dengan semua hukum alam yang pasti dan tetap sebagai sarana penunjang kelangsungan hidup manusia? Dan jangan lupa selain nikmat yang bersifat zahir itu Allah juga menyempurnakan nikmat manusia dengan memberikan mereka pedoman hidup sempurna. Sehingga dengan sarana dan pedoman hidup sempurna yang Allah karuniakan kepada manusia seyogyanya mereka dengan survive hidup mulia makmur dan tenram. Dengan kata lain manusia mestinya mampu eksis sebagai khalifah-khalifah Allah di atas muka bumi dengan penuh izzah dan kewibawaan.

Sebagai khalifah Allah di atas muka bumi ada dua tugas pokok penting yang harus diemban dan ditunaikan mnusia sampai hari kiamat. Yang pertama memakmurkan bumi. Kedua memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak mana pun. Memakmurkan Bumi terkait dengan tugas ini ada kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT kepada manusia yakni mereka harus mengekplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata dengan tetap memelihara kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjuntukan eksplorasi itu. Dengan begitu ada beberapa hal yang harus diperhatikan manusia dalam menggali kekayaan bumi.

Pertama menggunakan friendly technology. Apa pun usaha pemanfataan kekayaan alam, entah pertambangan, pertanian, usaha kehutanan, industri, dan lain-lain haruslah dengan memberi satu garansi bahwa ekosistem alam tidak menjadi rusak, tidak membuat hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah, air, dan udara menjadi punah dan tercemar racun-racun yang membahayakan kehidupan.

Kedua adanya konsep corporate social responsibility. Perusahaan atau korporasi yang bertanggung jawab tak selayaknya mendirikan bangunan-bangunan industrinya dengan megah namun tak memberi pemberdayaan baik secara material, akal, maupun spiritual bagi warga setempat. Logikanya masyarakat sekitar lokasi industri yang tercukupi secara materi dan tercerahkan akal dan spiritualnya akan ikut bertanggung jawab memelihara ekosistem alam.

Ketiga menjalankan usaha dengan cara-cara bersaing yang sehat. Dengan demikian sebuah usaha yang baik tidak akan dijalankan dengan cara monopoli tanpa memberi orang lain kesempatan untuk berusaha dalam bidang yang sama.

Memelihara Bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak para SDM sebuah perusahaan serta lingkungannya dari kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Karena SDM yang rusak akan sangat potensial merusak alam. Dengan demikian premis ini menuntut bahwa tiap jenis usaha apa pun harus memperhatikan hal-hal berikut: Pertama tidak membiarkan SDM perusahaan melakukan kebiasaan-kebiasaan merusak. Kedua tidak mengizinkan lingkungan sekitar berdiri sarana-sarana kemaksiatan. Ketiga tidak membiarkan berkembangnya sarana-sarana yang memungkinkan tumbuhnya tradisi syirik dan kekerasan. Keempat menjatuhkan sanksi yang berat bagi para perusak akidah dan akhlak. Kelima menumbuhsuburkan kegiatan-kegiatan keagamaan secara kontinyu dan baik.

Sangat wajar bila Islam berkepentingan agar manusia secara kolektif berjuang keras agar syariat-Nya tegak di atas muka bumi. Karena hanya Islam yang paling lengkap daan concern aturannya dalam menjaga kelangsungan hidup dan dalam memelihara ekosistem alam. “Oleh karena itu kami tetapkan bagi bani Israil bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena dia membuat kerusakan di muka bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” Dalam ayat lain Allah menyuruh manusia agar giat menggali karunia-Nya untuk investasi di akhirat. Ini berarti konsep pembangunan negara dan bangsa haruslah berwawasan ketuhanan.

Allah SWT melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi karena Dia tidak menyukai kaum perusak. Dengan spirit inilah generasi awal Islam membangun dan berperang dengan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Oleh karena itu Islam datang tidak membawa bencana tetapi bahkan sebaliknya ia membawa rahmat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Kalau kita mau merenung sejenak memikirkan tentang bencana demi bencana yang tak putus menimpa bangsa Indonesia seharusnya kita mengintrospeksi tindakan kita dan kebijakan-kebijakan pembangunan negara selama ini. Jikalau turunnya hujan yang semestinya membawa rahmat tetapi malah berubah menjadi bencana sekali lagi hal itu patut kita renungkan. Jangan-jangan banyak sekali kelalaian-kelalaian baik disengaja maupun tidak yang kita lakukan sehingga kita tidak amanah di dalam mengelola kehidupan. Alam kita biarkan dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan boleh jadi kita termasuk yang langsung atau tidak langsung melakukan proses perusakan itu. Alangkah bijaknya bila bencana-bencana yang menimpa berbagai wilayah di Indonesia kita jadikan bahan instrospeksi. Kedua komponen bangsa (pemerintah dan rakyat) harus membangun kesadaran secara bersama untuk kembali kepada jalan Allah. Kembali memperhatikan peraturan-peraturan-Nya tentang pemeliharaan kehidupan agar kita menjadi orang-orang yang amanah sekaligus menjadi bangsa yang pandai mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: