MAN SHABARA ZHAFIRA (BARANGSIAPA BERSABAR AKAN BERUNTUNG)

1

Kulalui sepanjang perjalanan pulang dengan hati mendidih. Teriknya matahari yang memanggang aspal siang ini menjadi tak berarti dibanding dengan kemarahan yang mencapai ubun-ubunku. Desir darah terasa sangat hebat. Jantungku berdegup keras, memompa darah begitu deras ke otak. Duh Gusti1, seandainya aku periksa tensi dengan keadaanku saat ini, aku menduga tensiku berkisar 160/100 atau bahkan lebih. Yang jelas, aku sampai menggigil menahan amarah ini. Betapa hebatnya.

Meski telah kutahan sekuat tenaga, bendungan ini akhirnya jebol2 juga. Air mata ini terasa panas menuruni pipiku. Tak kuhiraukan beberapa pasang mata yang jelas-jelas melirikku. Masa bodoh dengan tatapan mereka. Hatiku telah hancur, luluh lantak bagaikan bangunan yang dijatuhi bom, tinggal puing-puing yang berserakan. Telapak tanganku sampai memutih karena terlalu erat menggenggam stang3 motor.

Diiiiiiiiiin!!!

Suara klakson4 mobil membuyarkan kecamuk pikiranku. Ah, sial! Lampu sudah hijau ternyata. Umpatan dan makian kumakan mentah-mentah karena kecerobohanku melamun di perempatan lalu lintas. Bergegas kumasukkan persneling5 dan tancap gas. Beberapa pasang mata masih sempat menoleh ke arahku. Mungkin mereka bertanya-tanya melihat air mataku yang terus bercucuran tanpa suara.

“Awas, Bu! Hati-hati… jangan ngebut6!”

Celoteh riang terhambur begitu saja dari mulut kecilnya ketika dirasa aku telah melampaui batas kecepatan maksimum-ku. Anakku, balita empat tahun itu, selalu tahu jika aku terlalu cepat atau terlalu lambat mengemudikan motor ini. Ah, dasar anak kecil. Peka sekali perasaan mereka.

Kasihan… Suryaku tak dapat bersinar sore ini, batinku. Kutatap Surya yang hendak terbenam di ufuk barat, bagiku Surya bukanlah benda mati yang hanya bisa bersinar menerangi bumi, tapi lebih dari itu. Surya lebih hidup dari apapun lebih-lebih semangatnya. Aku ingin belajar dari Surya. Surya yang tetap bersinar meski langit bergelayutan mendung hitam. Sekecil apapun sinarnya tapi Surya akan tetap bersinar.

Kutatap langit kelam itu seperti tersihir. Di langit barat sekilas tampak kilat menyambar. Cahayanya menyilaukan mata. Tak lama kemudian guntur pun menggelegar. Lengkap sudah. Rasanya alam pun marah, semarah hatiku saat ini.

***

“Aline main-main dulu sama Dik Olive ya?” kataku pada si kecil setibanya di rumah. “Ibu mau istirahat sebentar. Boleh?”

Aline mengangguk khidmat, kuberikan sebuah payung kecil padanya karena hujan gerimis sudah turun, segera saja ia berlari kecil menuju rumah sebelah. Biarlah, aku ingin istirahat sejenak. Segera ku sms7 tetanggaku, Rina, ibu dari Olive untuk memberitahukan bahwa Aline ingin bermain di rumahnya.

Kemudian aku masuk ke kamar setelah melihat Aline sampai di rumah Rina. Di kamar ukuran mini, ada dipan tanpa kasur, hanya galar8 bambu beralas tikar saja. Meja kecil dan almari usang terletak di sudut kanan ruangan. Sedang di sudut kirinya ada lincak9 bambu kecil sebagai tempat shalat10, semua yang ada di kamar itu berukuran mini, begitulah adanya, sehingga aku pun menamainya ’kamar mini’.

Di atas dipan galar, aku berbaring, hatiku sangat gelisah, marah, bingung, pusing, sepertinya semua rasa ada di dalam benak ini bercampur jadi satu adonan yang siap meledak.

”Mulai detik ini, aku dan kamu bukan apa-apa lagi. Aku bukan bapakmu dan kamu juga bukan anakku. Aku dan kamu sudah menjadi orang lain. Maka jangan sekali-kali kamu datang ke rumah ini lagi!”

Masih terngiang-ngiang jelas di telingaku, seakan-akan sangat dekat. Dan masih tampak jelas di benakku seraut wajah bapak yang marah. Aku juga marah sebenarnya, namun aku diam saja. Anak mana yang tak berhak marah ketika orang tua memutuskan hubungan sepihak dan berkata semena-mena di depan cucunya?

Aku tahu beliau marah karena aku memutuskan untuk ikut suamiku tinggal di desa. Dan aku tahu, sejak awal beliau memang tidak setuju aku menikah dengan suamiku. Tapi apa daya, aku sudah memutuskan pilihan. Aku yakin jika jodoh itu Tuhan yang menentukan. Lalu, mengapa baru sekarang? Mengapa baru sekarang beliau menyatakan penyesalannya telah menikahkanku dengan suamiku? Kenapa saat aku sudah punya anak dan ekonomiku tengah terpuruk saat ini? Memang benar, suamiku orang desa yang berpendidikan rendah, juga bukan berasal dari keluarga yang berada, namun aku pun tak sembarang memilih suami. Aku memilih dia karena aku yakin dia orang yang sabar, penyayang, dan penuh tanggung jawab. Terbukti saat ini, saat ekonomi kami berada pada titik terbawah, dia tetap bersabar menjalaninya.

Memoriku melayang ke waktu enam tahun yang lalu. Pernah aku terkikik-kikik ketika Qori’, temanku di Probolinggo, berkirim surat padaku. Sebelumnya aku yang berkirim surat padanya, dalam surat itu aku menulis agar dia mengajariku tentang doa mendapatkan jodoh. Berikut penggalan surat balasannya.

……….. Oiya fren, kalau doa minta jodoh itu ada beberapa versi, yaitu:

1) Versi wajar : Ya Allah, kalau dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku jauhkanlah. 2) Versi Pak Tarno : Ya Tuhan, kalo dia jodohku, tolong dibantu ya…! Sim salabim jadi apa prok-prok-prok! 3) Versi Ngotot : Ya Tuhan, kalo dia jodohku dekatkanlah,  kalo  bukan   jodohku,  tolong  dicek  lagi  dong!  Mungkin  salah  baca! 4) Versi Rhoma Irama : Ya Tuhan, kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku, TERLALU! 5) Versi SBY : Ya Tuhan, kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku, saya hanya bisa prihatin. 6) Versi Bondan Feat 2 Black: Ya Tuhan, kalo dia jodohku dekatkanlah,  kalo bukan jodohku, ya sudahlah ….. 7) Versi OVJ : Ya Tuhan kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku langsung saja ke TKP. 8) Versi Bang Napi : Ya Tuhan kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku, Waspadalah! 9) Versi Sule : Ya Tuhan kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku, oooo tidak bisa….. 10) Versi Pembunuh : Ya Tuhan kalo dia jodohku dekatkanlah, kalo bukan jodohku, terimalah dia disisi-Mu.

Yah, akhirnya, dari semua versi yang ada, aku tak memilih satu pun versi yang diajukannya padaku. Aku cukup berdoa dengan versiku sendiri: “Ya Allah, jika memang dia jodohku, dekatkanlah, jika bukan, berikan aku jodoh yang lain yang Engkau ridhoi. Amin…”

***

Arrrrggghhh!!! Aku tak boleh terjatuh. Aku harus kuat! Kata hatiku mantap. Surya, aku akan menjadi seperti dirimu, tetap bersinar walau mendung tebal. Ya Allah, tapi aku tak bisa berbohong. Seperti hidup yang kadang memiliki kekosongan di beberapa titiknya. Seperti cerita yang terkadang harus berhenti sejenak, sebelum berlanjut ke babak berikutnya, aku berharap, episode kehidupanku berhenti sampai di sini saja. Astaghfirullah11…..

”Surya, ternyata dugaanku selama ini benar. Orangtuaku belum pernah memberikan restu itu padaku sampai saat ini.” Ucapku lirih pada Surya.

”Bodoh! Seharusnya kamu tidak gundah seperti ini, harusnya, kamu bisa bersikap tenang. Lihatlah…! Buka matamu lebar-lebar..! Berapa banyak mereka yang meneteskan air mata karena hidup sebatang kara! Banyak yang lain tak mendapatkan seperti yang kamu peroleh dalam hidup ini. Di sampingmu ada suamimu yang setia menemanimu, ada anakmu yang siap berceloteh menghiburmu. Mereka tak berputus harapan mengarungi kehidupannya, seolah mereka mengayuh kuat-kuat pedal hati mereka. Mereka itu lebih tahu harga  kehidupan dan semua  yang terjadi padamu ini, jauh lebih baik dari mereka. Baru masalah segitu saja kamu sudah rapuh..!!!”

”Kemana dirimu yang tegar.. yang selalu bangga dengan setiap masalah-masalah hidup! Selalu bangga dengan luka-luka hidup. Kemana? Apakah ia sudah mati, hahh!?,”

”Tidak..! ia yang seperti itu belum mati… Ia masih hidup. Bahkan kini ia lebih berani… Akan aku tunjukkan bahwa ia masih bisa seperti itu!!!

Itulah suara-suara yang terdengar dari sudut-sudut hatiku yang terdalam. Lama aku termenung, mencoba untuk memunguti semangat yang tersisa, yang berserakan, kemudian mencoba menyatukan kembali semangat itu.

Kucari handphone12 dan mulai mengetik sms. Tanpa kusadari, aku sangat cepat mengetik dan setiap selesai langsung kukirim kepada Uni. Salah satu teman di facebook13. Dia berasal dari Padang, maka kupanggil dia Uni. Walau jarak antara Ngawi dan Padang tidaklah dekat, entah bagaimana ceritanya kami berdua merasa sangat dekat. Aku merasa Allah telah mengirimkan aku seorang kakak. Bismillah14….. aku berharap, semoga nanti Uni lekas membalas sms ku dengan sms-sms yang menyejukkan hati, menyembuhkan luka, menenangkan jiwaku yang gundah ini. Kukirim sms ku.

Sms ke-1:

Tahukah Uni,  jiwaku sedang sakit? Saat kujatuhkan huruf-huruf ini membentuk sebuah pesan untukmu, air mataku tak henti mengalir, panas menuruni pipi ini, panas membasahi jiwa ini. Aku sakit, Uni, aku sakiiiiit! Maafkan daku uni!

Sms ke-2:

Masalah merundung dan jiwa menjadi lemah dan terpuruk. Tak ada arah, tak ada tempat bersandar, tak orang yang dapat dipercaya. Hati terasa sakit dan bingung! Seakan diri orang yang tiada guna! Perasaan campur aduk bagaikan sampah di TPA15. Tak tahu arah kemana?

Sms ke-3:

Ingin mengurung diri, tak bersua dengan sesiapa. Setiap hari raga harus berjumpa dengan sesama, namun jiwa kosong, mati seperti zombie16! Daku hilang arah, daku ingin meledak saja..!

Sms ke-4:

Pernah terlintas ingin mengembara saja. Seperti bohemian17 yang setiap hari mencecap luka namun bebas tak terikat dengan sesiapa, tapi sanggupkah? Jiwa ini terlalu lemah menghadapi semuanya!

Wah, banyak juga sms ku. Tapi biarlah, aku ingin mencurahkan isi hatiku. Tak lama setelah semua sms ku terkirim, datanglah sms balasan dari Uni.

Sms ke-1:

Semoga cepat sembuh, Saudariku. Optimislah menghadapi hidup ini. Uni yakin bahwa kamu mampu menghadapi kenyataan sepahit apapun.

Sms ke-2:

Sesungguhnya kita tak pernah bisa menghindar dari apapun. Jadi, mengalir saja seperti air. Kadang air deras mengalir, kadang juga tersendat-sendat, kadang jernih, dan kadang keruh silih berganti. Begitu pun dengan hidup kita dan semua itu akan mewarnai hidup kita.

Sms ke-3:

Makna dari hidup yang mengalir adalah kita harus berani menjalani kenyataan hidup. Warna kehidupan itu beragam, ada senang, sedih, ada tertawa, juga ada menangis. Mana yang cocok untuk kita, hanya Allah yang tahu, kita tidak bisa memilih. Meski begitu, kita harus yakin bahwa apapun yang kita terima adalah yang terbaik.

Sms ke-4:

Waktu yang akan mengajari kita bagaimana bersikap arif dengan hidup. Jangan tergesa-gesa karena memang tidak mudah. Teruslah berjuang. Berjuang meraih kebaikan. Meski tidak mudah. Sebenarnya kuncinya hanya ada dua: yaitu sabar dan berlindung kepada Allah. Dengan cara demikian, kesejukan, kedamaian, dan keindahan hidup bisa kita rasakan dan nikmati.

Sms ke-5:

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang tampaknya sia-sia, Allah tahu betapa keras kau telah berusaha. Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih, Allah telah menghitung airmatamu. Ketika kau pikir sudah mencoba segalanya dan tak tahu hendak berbuat apalagi, Allah ada untuk menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak harapan, Allah sedang berbisik kepadamu. Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digapai, Allah telah membuka matamu dan memanggil namamu. Ingatlah, bahwa di manapun kau berada, Allah selalu bersamamu, Saudariku!

Sms ke-6:

Dalam kesakitan teruji kesabaran, dalam perjuangan teruji keikhlasan, dalam tawakkal18 teruji keyakinan. Hidup ini indah jika segalanya karena Allah.

Wah, wah! borongan juga Uni membalas sms ku. Kiranya Uni pun tahu apa yang kurasakan saat ini. Allah, terima kasih telah kau kirimkan Uni untukku hingga aku tak merasa sendiri di dunia ini. Sesaat kemudian, mata yang telah lelah menangis ini berbinar lega, seolah menemukan setitik harapan. Aku bangkit dari pembaringan, bergegas menuju ke sumur untuk berwudhu19, agar kesedihan terhapus dari wajahku dan siap menyambut kepulangan suamiku dengan wajah yang berseri.

”Ya Rabb, aku memohon dengan ilmu-Mu dan fadhilah-Mu yang agung tentang perkaraku ini. Sesungguhnya Engkau kuasa sedang aku tak kuasa, dan Engkau  mengetahui sementara aku tidak mengetahui. Ya Allah, jika Engkau melihat bahwa perkara ini terbaik untukku, maka takdirkanlah dan mudahkanlah aku di dalamnya, namun jika sebaliknya yang terjadi, maka palingkanlah aku darinya,dan takdirkanlah bagiku kebijaksanaan seperti semula. Ya Allah, kabulkanlah permohonanku ini.”  Aku berdoa seusai shalat dan kemudian bersujud20 lama. Sujud panjang sekali… hingga akhirnya tanpa kusadari aku terlelap di lincak shalatan21.

***

Daun menggigil. Kabut tipis menyelimuti permukaan tanah. Hujan deras tadi sore benar-benar telah membuat udara sangat menggigit. Gigiku gemeretuk, dan kakiku terasa berat untuk melangkah seolah darahku telah lama membeku. Dalam hati aku tak henti merapal doa, “Ya Rabb22, disaat udara sangat dingin seperti ini, aku mohon agar penyakit asma ku tidak kambuh, sehingga menyusahkan orang lain”

Segera ku ambil air wudhu di sumur, berniat untuk menunaikan tahajjud23-ku malam ini. Bersimpuh kembali di hadapan-Nya, meski malu rasanya terus-menerus mengeluh begini, tapi pada siapa lagi? Bukankah Allah Maha Bijaksana? Allah tahu bagaimana keadaan kita.

”Ya Rabb, berikan aku keikhlasan untuk menerima semua ini,” ucap batinku lirih. Aku bukannya ingin sok tahu atau apa, hanya saja aku ingin mengubah luka-luka ku menjadi yang berharga.

Dalam tahajjud, kusenandungkan lagu rindu pada-Nya: Ilahilastu lil firdausi ahla…. Walaa aqwa ‘alanaaril jahiimi. Fabli taubatan waghfir dzunuuubi. Fainaka ghofiruz dzanbil adziiimi…. (Wahai Tuhanku, ku tak layak ke surga-Mu. Juga tak sanggup menahan siksa neraka, kabulkan taubat, ampunkanlah dosa-dosaku. Hanya Engkaulah pengampun dosa hamba-Mu. Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir. Maka berilah ampunan duhai Tuhanku yang Maha Agung. Setiap hari umurku terus berkurang sedangkan dosaku terus menggunung. Bagaimana aku menanggungkannya? Wahai Tuhan, hamba-Mu yang pendosa ini datang bersimpuh ke hadapan-Mu. Mengakui segala dosa. Mengadu dan memohon pada-Mu).

***

Satu bulan kemudian …..

Kusambut hariku dengan semangat. Indahnya nuansa pagi, kicau burung bernyanyi menyambut sang mentari. Kutatap lekat-lekat sang Surya yang mulai mengintip di ufuk timur, dalam hati aku berteriak lantang: ”Surya, kini aku telah melalui badai, telah menghadapi karang. Mana Surya, mana karang dan badai yang lain.. Sekarang aku siap menaklukkan mereka. Aku tidak takut..! Aku yakin badai pasti berlalu… Aku yakin Allah selalu menyertai langkah setiap hamba-Nya.”

Kuhirup udara pagi sepenuh hati dan aku merasa bebanku menjadi sangat ringan. Bibirku pun menyunggingkan senyum bahagia. Ya Allah, sungguh benar janji-Mu. Engkau mengabulkan doa orang yang memohon pada-Mu. Ya Allah, Engkau telah memudahkan jalanku mengarungi cobaan ini.

Semalam ada telepon dari ibu, beliau menyuruhku berkunjung ke rumah. Beliau mengatakan bahwa Bapak sakit dan sering mengigau. Aku pun bergegas menuju ke sana. Sesampainya aku di rumah orang tuaku, ayahku langsung berkata sambil terbatuk-batuk. Inti dari pembicaraannya adalah beliau meminta maaf atas semua ucapannya yang menyakitkan hati. Subhanallah24, air mataku pun menetes. Aku mengangguk pertanda telah memaafkannya. Lalu, bibir beliau menyunggingkan seulas senyum yang tulus dan bahagia.

Kemudian, kudengar HP berbunyi. Ada sms dari Uni:

Ya Allah, Ya Rabb, kuselipkan doa ini di antara semua ibadahku, untuk wanita cantik, tulus dan bersih hatinya, wanita yang kuat, tegar dan teguh, wanita yang sabar dengan segala cobaannya, wanita yang sholehah25, wanita itu saat ini sedang membaca smsku ini. Ya Allah, aku menyayanginya, berikan kebahagiaan di dunia dan akhirat26, derajat yang mulia di sisi-Mu. Amin.

Lalu, aku mulai mengetik untuk membalas sms nya:

Untukmu yang teristimewa di bumi Allah yang Maha Sempurna. Kukirimkan salam terindah, salam yang harumnya melebihi kesturi27, sejuknya melebihi embun pagi, salam hangat sehangat mentari di waktu dhuha28, salam suci sesuci telaga kautsar29. Salam kasih dan cinta seorang saudari yang tak akan pernah pudar dalam segala musim. Semoga rahmat Allah senantiasa menyertaimu. Amiin!

Kukirimkan sms balasan itu pada Uni. Lima menit kemudian, ada sms masuk lagi dari Uni:

Ya Allah berkahilah saudariku ini dengan rahmat-Mu. Iringi langkahnya dengan ridho30-Mu. Sayangilah ia dengan cinta-Mu. Lindungi ia dan kuatkan ia dari ujian-Mu. Muliakanlah ia dengan syafaat31-Mu. Dan terimalah puasa, shalat, dzikir32, tilawah33 dan sedekahnya. Semoga Allah mengabulkan doa ini. Amin.

Senyumku terkembang semakin lebar setelah membaca sms dari Uni dan aku pun menjadi sangat yakin bahwa: “Man shabara zhafira”, barangsiapa bersabar akan beruntung.

Mulai kini aku telah berjanji. Akan kubiarkan hidup ini mengalir jauh dan bebas mengembara, seperti bocah kecil yang mengikuti gerakan awan yang merayap di angkasa. Aku akan mengikuti gerak aliran hidup ini ke manapun menuju.

Ya Rabb, ketika aku tak takut kehilangan apapun, justru kudapatkan segalanya. Saat kulepaskan keakuanku, justru kutemukan jati diriku. Saat aku jalani penghinaan dengan kepasrahan total, jiwaku justru merdeka. Alhamdulillahirobbil’alamiin34.

 GLOSARIUM

  1. Duh Gusti : Ya Allah/Ya Tuhan
  2. Jebol: tak tertahankan
  3. Stang: kemudi
  4. Klakson: Bel
  5. Persneling: alat untuk mengatur kecepatan kendaraan bermotor (berupa roda gigi)
  6. Ngebut: mengebut
  7. SMS : Short Message Service (fasilitas yang tersedia di ponsel/handphone berupa layanan pesan singkat)
  8. Galar: pelupuh yang terbuat dari bambu, dipakai sebagai alas tikar di atas balai-balai
  9. Lincak: dipan bambu, bangku panjang dari bambu
  10. Shalat: ibadah orang Islam
  11. Astaghfirullah: Ampunilah aku ya Allah
  12. Handphone: telepon genggam
  13. Facebook: aplikasi sosial dan pertemanan di internet
  14. Bismillah: dengan menyebut nama Allah
  15. TPA: Tempat Pembuangan Akhir (untuk sampah)
  16. Zombie: mayat hidup
  17. Bohemian: orang yang hidup mengembara dan tidak teratur serta tidak memikirkan masa depannya
  18. Tawakkal: sikap pasrah kepada Tuhan
  19. Wudhu: bersuci
  20. Sujud: gerakan dalam shalat
  21. Lincak shalatan: dipan bambu untuk tempat shalat
  22. Rabb: Tuhan
  23. Tahajjud: shalat malam
  24. Subhanallah: Maha Suci Allah
  25. Sholehah: taat
  26. Akhirat: alam setelah kehidupan di dunia
  27. Kesturi: zat yang harum baunya
  28. Dhuha: shalat di waktu matahari naik sepenggalah
  29. Telaga kautsar: nama sebuah telaga di surga
  30. Ridho: restu
  31. Syafaat: pertolongan
  32. Dzikir: ibadah dengan menyebut nama-nama Allah
  33. Tilawah: mengaji Al-Qur’an, pembacaan (ayat Al-Qur’an) dengan baik dan indah
  34. Alhamdulillahirobbil’alamiin: Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: