SURAT UNTUK TUHAN

index1

Kepada Yth.:

Allah SWT, Tuhanku yang Maha Kaya dan Pemurah.

 

Bismillahirrohmaanirrohiim….

Dengan segala hormat,

Ya Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah. Maafkan hambaMu yang bodoh dan hina ini, berani menulis surat kepadaMu. Astaghfirullahal’adziim…. Saya menulis surat ini karena saya hampir tidak tahan, hampir putus asa, hampir bingung. Jiwa saya lelah dan goncang. Karena sebagaimana Engkau ketahui bahwa keadaanku akhir-akhir ini sungguh melelahkan. Aku lelah ya Allah….

Ya Allah, saya bersyukur sekali, saya masih sehat, masih memiliki kesempatan, masih memiliki rejeki “secukupnya”. Ya Allah, Yang Maha Kaya dan Pemurah, kuberitahu Engkau, walaupun Engkau pasti sudah tahu, bahwa perasaan ini kalut dan kecut. Kacau balau tepatnya. Kenapa ya Allah, tahun ini sangat mengenaskan bagiku. Walau tahun-tahun sebelumnya aku terbiasa mengalami hidup sulit. Salahkah pilihanku ini ya Allah… salahkah aku? Aku pusing, penat, lelah, galau, dan …. entahlah ya Allah. Segala perasaan negatif bercampur menjadi satu di otak dan hatiku ini. Adakah ini cobaan? Ataukah hanya sekedar kebodohanku saja? Adakah saya bodoh? Saya tidak malu mengungkapkan ini kepadaMu. Buat apa malu, jika Engkau memang Maha Pengertian. Ya Allah, akankah aku sanggup melalui ‘liku-liku’ kehidupanku yang berat saat ini? Laa haula walaa quwwata illa billah….. (hatiku sudah luka ya Allah, terlanjur luka. Sangat parah. Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui, hanya Engkaulah Maha Penyembuh, sembuhkanlah aku dari luka ini ya Robb. Berikanlah hidayah kepada mereka yang menganiaya dan mendzolimi aku, bukalah mata dan hati mereka agar mereka menyadari kesalahan mereka. Amin).

Ya Allah, meskipun aku bersyukur padaMu karena Engkau memberikan semangat kerja keras dan cukup kepintaran, serta Kau tanamkan cita-cita untuk menjadi pengusaha mandiri, kuat dan kaya raya. Saya terus berjuang menggapai cita-cita itu, dan menunggu cukup lama dalam segala kelelahan dan rasa takut, dalam cemas dan ragu, dalam derita dan kebingungan, dalam segala rasa malu. Saya sungguh malu ya Allah. Malu kepada keluarga, kepada masyarakat, kepada teman-teman, kepada orang-orang. Saya ingin maju, kaya dan dermawan. Saya selalu berdoa dan berdoa agar seluruh kehendakku itu adalah cerminan langsung dari kehendakMu juga. Saya berharap bahwa semua cita-citaku adalah cita-cita yang memang Kau tanamkan dalam akal dan hatiku, dan sungguh itu Kau tetapkan menjadi cita-cita yang dapat kutempuh dan hendak Kau tetapkan sebagai kenyataan bagiku dengan segenap berkahMu.

Saya ini manusia ciptaanMu yang penuh keterbatasan. Namun, niatku selalu kujaga dan kupertahankan. Jangan sampai niat ini berserong dari menghamba kepadaMu, jangan sampai dikelabui godaan duniawi. Tolonglah Engkau jaga niatku ini. Pun demikian, Engkau tahu, niat saja tidak cukup, karena hambaMu ini membutuhkan hidayahMu yang menunjukinya ke jalan lurus dan menuntunnya ke sana. Lalu kapan ya Allah, kapan Engkau berikan saya jalan yang lurus, kapan Engkau tuntun saya ke sana, di mana saya dapat menempuh cita-citaku, memperbaiki kualitas kehidupanku ini. Sudah cukup lama saya menunggu karuniaMu ya Allah. Sudah lama saya bisikkan ini kepadaMu. Saya terus bekerja keras. Tetapi beberapa kali usahaku bangkrut dan saya kembali kekurangan uang. Bahkan menanggung tumpukan hutang. Astaghfirullah…… tunjukilah dan bawalah saya menempuhi jalan yang lurus menuju kesuksesan. Ampunilah segala kesalahan, khilaf dan dosa-dosa hamba yang menggunung, sebanyak buih di lautan, dan…. entah ya Allah. Aku sungguh malu, dengan apa aku menghiba? Tak cukup hanya istighfar kulantunkan, namun harap dan cemas selalu menyertaiku. Harapku, baik sangkaku kepadaMu, agar Engkau mengampuniku. Hanya Engkaulah Maha Pengampun, Ya Ghofar….

Lalu, benarkah itu reaksiMu ya Allah. Itukah yang Kau inginkan? Sungguhkan takdirMu lain dari doaku, lain dari usahaku? Balasanmu atas doa dan usahaku secukup itukah? Hingga saya kini sudah jatuh tertimpa tangga pula. Cobaan datang bertubi-tubi, bermacam-macam. Bahkan keluargaku sendiri, tak henti-hentinya mendzolimiku. Balasanmu atas doa dan usahaku secukup itukah? Hingga saya kini kekurangan uang dan jatuh tertimpa hutang? Atau saya terlampau serakah? Apakah saya berlebihan, jika ingin hidup layak seperti orang normal lainnya? Apakah saya berlebihan, jika ingin hidup bahagia dikelilingi keluarga yang harmonis pula? Apakah saya tidak boleh sukses seperti orang sukses yang lain? Tentu tidak khan? Semua hambaMu tahu bahwa Engkau Maha Kaya dan Pemurah.

Lalu kuingin bertanya, kapan kau titipkan kepadaku rezekiMu yang cukup, cukup banyak maksudku, yang melimpah? Kapan Engkau berikan saya ketetapan hati, Engkau tunjuki dan Kau tuntun saya ke jalan yang terang benderang yang mengarah kepada kejayaan. Kapan Kau membuka hati orang-orang di sekitarku untuk menjadi penyalur karuniaMu kepadaku? Kapan Engkau buka mata hati mereka, memudahkan saya bekerja sama dengan mereka? Kapan Engkau berikan hidayah pada keluargaku, agar tenang dan bahagia hidupku? Bukankah semuanya itu mudah bagiMu ya Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang….. saya tidak menuntut dengan terburu-buru waktu, tidak memaksaMu cepat-cepat. Saya hanya mau bertanya kapan? Kapan Engkau lakukan ya Allah, kapan? Bukankah itu mudah bagiMu? Sementara saya begini lelah menjalani kehidupan yang berat ini.

Maafkan saya bila ketus kepadaMu ya Allah. Astaghfirullah….. maafkan saya yang lemah ini, yang suka mengeluhkan karuniaMu, yang senantiasa merasa kurang. Maafkan saya yang kadang merasa tertekan dan tidak tahan atas semua kehidupan yang berat ini. Kadang saya khilaf. Maafkanlah, bila ternyata saya yang salah mengerti atas karunia yang Engkau berikan. Pasti saya tak tahu bahwa Engkau telah menitipkan rezeki yang banyak tapi tak kusadari.

Namun salahkah aku jika mempertanyakan ini? Atau apakah menurut penilaianMu saya ini kurang bersyukur dengan semua titipanMu? Walau saya merasa telah bersabar dan terus bersyukur kepadaMu. Sungguh. Ataukah saya salah dalam melakukannya? Atau apakah Engkau menilaiku kurang dapat dipercaya menjaga amanah-Mu untuk masa sekarang ini, sehingga Kau tidak menitipiku lebih banyak rezeki. Sungguhkah? Kau tahan rezekiku buat esok?

Ya Allah yang Maha Bijaksana, apakah Engkau punya alasan untuk menunda rezekiku? Ah, saya tidak mau curiga apa-apa, tidak mau berpikir negatif tentang qodho dan qodharMu terhadapku, saya percaya bahwa Engkau Maha Kaya dan Pemurah. Skenario kehidupan yang melelahkan ini mudah Kau persingkat, lalu Engkau ganti menjadi skenario kejayaan selamanya.

Saya pasrah. Saya tulis surat ini dengan penuh kepasrahan, karena sudah lama sekali saya pasrahkan jiwa dan ragaku kepadaMu ya Allah. Segalanya, semuanya, yang telah dan belum kumiliki semuanya kupasrahkan kepadaMu.

Ya Allah, hanya padaMu lah akhirnya kusadari bahwa segalanya ini bermula dan berakhir. PadaMu lah semua ini harus kulabuhkan, harus kusandarkan. PadaMu lah aku harus melangkah sekaligus berhenti. PadaMu semuanya kupasrahkan.

Bismillahirrohmaanirrohiiim….. tolonglah saya, berilah saya kebahagiaan hidup, perkembangan hidup, kabulkanlah cita-citaku untuk menjadi pengusaha mandiri, kuat dan kaya raya, tunjukilah dan tuntunlah saya menuju jalan lurus untuk menggapainya, ya Allah. Saya tak tahu, bila dalam tahun ini saya tidak ada perkembangan, bahkan merosot tajam, entah apa jadinya saya ini. Engkau bertanggung jawab atas hambaMu ini, karena semuanya sudah kupasrahkan. Dan kutahu Engkau Maha Kaya dan Pemurah. Terima kasih ya Allah.

Ya Allah, Zat yang Maha Tahu. Zat yang Maha Kaya dan Pemurah. Zat yang Maha Bijaksana. Jika ini memang jalanku, maka mudahkanlah. Jika bukan, maka berikanlah jalan yang lain yang Engkau ridhoi. Berilah aku kebahagiaan dalam menjalani hidup ini. Bahagia dunia maupun akhirat. Amin….

Sekali lagi maafkan kelancangan suratku ini. Tiada maksud buruk berkirim surat kepadaMu. Karena ini adalah bagian dari doa dan usahaku kepadaMu. Saya yakin surat ini sampai kepadaMu lebih cepat dan lebih mudah, lebih murah dan lebih nyaman, daripada berkirim surat kepada sesama manusia sepertiku. kepadaMu surat ini kulayangkan. Saya menunggu balasanMu dengan sepenuh harap. Berilah hambaMu ini jawaban. Terima kasih.

Ngawi, di puncak kegalauan

hambaMu yang memohon,

Yanny Pandhega

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: