SURAT CINTA UNTUK SAUDARIKU

Kepada:

Saudariku,

Assalamualaikum, Wr.Wb.

Saudariku, aku tak bisa mengatakan dengan pasti apa yang sedang kau jalani sekarang. Kau yang lebih tahu. Mata orang semua tertuju pada keluarga kita. Satu hal yang harus kau pahami. Kita hidup tidak sendirian di dunia ini. Ada peraturan yang mengikat, yang bila dilanggar mungkin akan terasa akibatnya sekarang. Baik berupa kerugian kehormatan, kesakitan, kesehatan, apalagi yang bernilai dan sebagainya.

Beberapa kali diri ini bermimpi buruk. Dan setiap kali diri terbangun dari mimpi itu, diri ini menangis dalam diam. Lalu, ketika diri bersimpuh di hadapan-Nya, kutumpahkan isak tangis yang tiada terhingga karena menyesaki dada. Tahukah kau Saudariku, apa mimpi yang selalu mengganggu tidurku itu? Maafkanlah jika aku tak bisa mengungkapkannya secara halus. Aku bermimpi kau mendekati zina. Astaghfirullahaladzim… Naudzubillahi min dzalik….

Betapa hancur hati ini karena mimpi itu. Karena dalam mimpi sekalipun diri ini sangat tersiksa. Sekali lagi aku tegaskan “aku tak bisa mengatakan dengan pasti apa yang sedang kau jalani sekarang. Kau yang lebih tahu”. Semoga engkau selalu mengingat firman Allah: Janganlah sekali-kali engkau mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang keji. Maafkanlah jika ungkapan hati ini kurang berkenan, kurang mendapatkan tempat dihatimu. Bukan diri sok suci, hanya kewajiban sebagai Saudari yang menuntutku untuk menyampaikan. Bukan sekedar penggugur kewajiban, tapi diri ini tulus menyampaikannya. Entah engkau suka atau tidak.

Ketahuilah Saudariku, kegiatan berpacaran tidak ada tuntunannya dalam agama kita. Semoga engkau juga mengetahuinya, karena diri ini tak ingin berkesan menggurui. Dan berpacaran itulah yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai aktivitas mendekati zina. Karena dalam berpacaran, akan ada aktivitas-aktivitas yang mendekati zina (misal: mencium, meraba, memeluk, yang nantinya akan menimbulkan nafsu syahwat) Naudzubillah….

Sekali lagi maafkanlah, bukan ingin menggurui atau mencampuri, tetapi pernah suatu kali ketika melihat konser di Alun-Alun, diri ini ini pernah memergokimu sedang berdiri memeluk tubuh kekasihmu itu dari belakang. Alhamdulillah, hanya sebatas itulah yang diri ini ketahui, semoga selain kejadian itu, tidak ada kejadian-kejadian lain yang lebih dari itu. Bukan diri ini bersih dari dosa karena telah menyampaikan kebenaran ini, tetapi Saudariku, ketahuilah, bahwa aku tak ingin engkau terjerumus dalam perbuatan yang keji itu.

Diri merasa berkewajiban menyampaikan kebenaran ini terdorong oleh sebuah ayat dari Al-Qur’an: Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jika engkau ingin terbebas dari perbuatan keji itu, wahai Saudariku. Tempuhlan jalan yang telah dipilih Allah. Suruhlah kekasihmu itu mengkhitbah dirimu (khitbah: melamar) agar kau dan dia menjadi halal untuk berdekatan. Tak perlu risau, Saudariku. Tentulah hati ini tak akan siap dengan konsekuensi yang akan dihadapi di masa mendatang. Tapi itulah bisikan dari syetan yang terkutuk. Syetan selalu membisikkan was-was (ragu) di dalam hati kita untuk menjalankan perintah dari Allah, dan selalu menyuruh pada keburukan karena dia merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Dia ingin menjerumuskan kita ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

Buanglah rasa takut di dalam dada kalian, wahai Saudariku. Meski dalam keadaan sempit dan sedih. Allah dan malaikat-Nya akan menolong kita dengan jalan/cara yang tidak terduga.

Jika ujian, cobaan yang diberikan Allah hanya yang mudah-mudah saja, tentu kita tidak akan memperoleh ganjaran yang hebat (surga). Ujian atau cobaan melatih kita untuk tegar, bukan menjadikan kita makhluk yang lemah apalagi cengeng.

Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab. Bila semua pihak menghindar, biarlah diri ini yang menanggungnya. Semua atau sebagainya. Diri ini harus mengambil alih tanggung jawab ini dengan kesedihan yang sungguh, seperti diri ini menangisinya saat pertama kali mengetahui kebenaran yang pahit untuk disampaikan. Biarlah orang tua kita teguh dengan kediaman mereka yang tak mampu menegur kalian. Tapi diri ini, Insya Allah, dengan kekuatan yang diselipkan oleh-Nya memberanikan diri untuk menyampaikan kebenaran ini pada kalian.

Ada jutaan tipu daya yang mengepung kita. Musuh bukanlah yang bersenjata misili tapi bisa jadi diri sendiri. Kebahagiaan sejati akan diperoleh manusia bila ia tidak bertumpu pada sesuatu yang fana dan rapuh. Dan sebaliknya justru berorientasi pada keabadian (akhirat).

Setiap orang pasti ada cobaannya, obatnya adalah kesabaran, keikhlasan dan kembali pada Allah. Berikan sabar diatas sabar kepada Allah SWT, Allah akan segera mendatangkan jalan keluarnya. Begitu pula rezeki, Allah akan memberikannya dengan cara yang tak terduga.

Berkhitbahlah wahai Saudariku. Berkhitbah hanyalah sekedar melamar (yang bisa menjaga nama baik diri dan keluarga dari kehidupan sosial atau masyarakat) yang nantinya akan berlanjut pada akad nikah/ijab qobul yang hukumnya wajib. Sedangkan resepsi pernikahan hukumnya tidak wajib dalam Islam. Allah tidak akan membebani manusia diluar kemampuannya. Resepsi pernikahan boleh dilangsungkan beberapa tahun setelah akad nikah atau ijab qobul, tidak ada batasan waktu. Insya Allah, jika engkau menjalankan perintah-Nya dengan teguh hati, ia akan menolongmu. Tinggalkanlah larangan-Nya dengan ikhlas, maka Ia tak akan pernah meninggalkanmu. Laksanakan shalat istikhoroh, minta petunjuk kepada-Nya, niscaya Ia akan menunjukkan jalan yang terbaik bagimu.

Sekali lagi, aku tak bisa mengatakan dengan pasti apa yang sedang kau jalani sekarang. Kau yang lebih tahu. Mata orang semua tertuju pada keluarga kita. Satu hal yang harus kau pahami. Kita hidup tidak sendirian di dunia ini. Ada peraturan yang mengikat, yang bila dilanggar mungkin akan terasa akibatnya sekarang ataupun nanti.

Marilah kita menarik pelajaran dari masa lalu, menarik manfaat, mensyukuri kenyataan baiknya dan menghindari kenyataan buruknya agar tak terulang lagi. Saya yakin betapapun jauhnya hubungan kita selama ini namun kau tentu tidak menutup diri untuk menerima satu dua patah kata dariku sebagai tanda bahwa saya masih punya hati untuk memahami dan menghayati masalah/perasaan orang lain. Maafkan daku atas segala kealpaan. Terimalah kebenaran dari manapun datangnya. Semoga rahmat Allah selalu menyertai kita semua. Amin.

Terima kasih. Sekian, Wassalamualaikum, Wr.Wb.

Dari:

Saudarimu,

 

NB:

Tak usahlah kau balas suratku ini. Cukup direnungkan saja. Maafkan jika ada kata-kata yang kurang berkenan, syak wasangka (prasangka buruk), kalimat yang melukai hati, bukakanlah pintu maaf yang selebar-lebarnya. Cukuplah Allah Sang Maha Pembalas. Semoga kita semua tetap berada di atas jalan yang benar. Amin.

3 responses to this post.

  1. Posted by purwatiwidiastuti on 20 August 2013 at 03.38

    demi cinta…atas nama cinta..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: