ANAK-ANAK MALAM

7

Ketika itu menjelang Natal. Tapi tak terasa suasana pesta. Kami semua prihatin. Nenek sakit parah. Beliau tak bisa meninggalkan kursi rodanya. Kami pun harus tidur lebih awal.

Rumah tempat tinggal Nenek besar, kuno dan temaram. Sinar matahari tak banyak masuk. Tapi aku menyukainya. Nenek sering memanggilku dan mengisahkan pengalaman masa lalunya yang ganjil. Tapi itu dulu, sebelum Nenek sakit.

Tugas merawat Nenek dibebankan pada Ibu. Karena kebetulan lagi libur, aku diajaknya. Malam itu seharusnya aku sudah tidur. Tapi karena susah tidur, aku termenung saja di balik jendela. Menikmati pemandangan di luar.

Tiba-tiba kudengar suara langkah kaki. Lalu perlahan pintu kamarku terbuka. Seorang gadis kecil berambut pirang muncul di ambang pintu. Kemudian duduk di karpet. Katanya, ia sedang menunggu teman-temannya.

Sebentar kemudian beberapa anak seusiaku menghambur masuk. Mereka bermain-main seperti berada di luar rumah. “Jangan berisik! Nanti Nenek bangun,” tegurku. Tapi mereka tak peduli, dan terus bermain-main.

Suara kokok ayam terdengar. Aku tertidur di lengan kursi. Suasana sudah kembali sepi. Aku kembali ke ranjang.

Esok malamnya, kutunggu lagi kedatangan anak-anak itu. Tapi Ibu memergoki dan menyuruhku lekas tidur. “Malam sudah larut,” katanya.

Beberapa malam kemudian, aku berhasil menyelinap keluar. Kemudian duduk di depan jendela. Anak-anak yang sama muncul. Mereka serempak mengajakku bermain di luar. Kami bermain-main di bawah pepohonan tinggi sampai ayam jago berkokok. Seorang teman bermainku, anak lelaki berambut pirang bermata sayu berkata, “Kami akan kembali besok. Tunggu ya….”

Aku lari kembali ke kamar tidur dan hati-hati naik ke ranjang. Ibu rupanya curiga. Sebab ia berjingkat memasuki kamarku dan mendekati ranjang. Aku pura-pura terlelap sampai Ibu pergi lagi.

Sejak itu, Ibu selalu mengamati gerak-gerikku. Sampai suatu malam, ketika Ibu lengah, aku kembali keluar ke ruang tengah.

Oh iya, kusebut saja teman-temanku itu “anak-anak malam”. Kali ini mereka mengajakku pergi bermain ke pabrik penggilingan.

Aku heran. “Apa di kota ini masih ada pabrik penggilingnan?”

“Yah. Di sana asik lo. Kita bisa menangkap ikan-ikan merah!”

Mereka lalu membawaku ke sebuah jalan setapak yang tepinya dibatasi pepohonan tinggi. Tempat itu amat asing bagiku. Sebuah sungai mengalir tenang dekat pabrik penggilingan. Aku tertinggal di belakang ketika kudengar suara pekikan. Anak-anak lari hilir mudik. Mereka panik, tak tahu harus berbuat apa. Ternyata, si bocah pucat berambut pirang bermata sayu itu tercebur ke sungai!

“Kami tak berhasil menyelamatkannya,” desah mereka, saling pandang, lalu saling bertangisan.

Aku tersentak bangun. Ibu mengguncang-guncang tubuhku. Ternyata aku sudah di kamar tidur. Entah mengapa bisa begitu. Kata Ibu, aku mengigau.

Apakah kejadian semalam itu nyata, atau cuma mimpi? Aku ingin menceritakan pengalamanku pada Ibu. Tapi, Ibu pasti marah kalau tahu aku keluar tengah malam, bermain dengan anak-anak yang belum kukenal.

Siangnya, ketika berdua bersama Nenek, beliau bertanya padaku, “Mengapa kau tak riang seperti biasanya? Apa yang terjadi?”

“Aku mimpi buruk, Nek. Aku sedang bersama teman. Seorang di anataranya tenggelam di sungai.”

“Mirip peristiwa masa lalu,” sahut Nenek. “Kejadiannya sudah amat lama, ketika Nenek masih seusiamu. Nenek punya sepupu, yang juga teman bermain Nenek. Ia berambut pirang, bermata sayu. Kami sedang pergi bermain di dekat pabrik penggilingan. Tak seorangpun yang tahu apa sebabnya, tiba-tiba ia tercebur ke dalam. Beberapa hari kemudian jasadnya ditemukan mengambang di tempat jauh…”

Kurenungkan kisah Nenek. Berhari-hari aku tidak ke kamar tengah setelah matahari terbenam. Aku takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi lagi.

Suatu hari, kesehatan Nenek memburuk. Pak dokter menjinjing tas kerja hitam dan tanpa bersuara keluar masuk kamar Nenek. Para perawat berseragam putih dengan wajah tanpa eksperesi berjalan melintasi lorong-lorong.

Aku dikembalikan ke rumah. Suatu siang Ibu pulang. Air mata berlinang membasahi pipinya. Ibu memelukku dan berbisik, “Nenek telah berpulang…”

Hatiku amat sedih. Bukan karena sekedar kehilangan seorang Nenek. Tapi juga karena tak bisa bermain-main lagi dengan teman-temanku yang aneh. Ibu hendak menjual rumah itu, karena terlalu besar dan kuno. Tak ada keluarga yang mau tinggal disitu. Maka sebelum rumah itu laku, aku minta Ibu membawaku ke sana, untuk melihat-lihat yang terakhir kalinya.

Ibu pun membawaku kesana. Sampai di sana, tampak Bibi Maris sedang mengemasi barang-barang yang dulu menghiasai rak panjang. Terdapat sejumlah foto tua. Tiba-tiba aku memekik. Dalam sebuah bingkai tua kutemukan sebuah foto kusam dan warnanya kekuningan.

Aku memungutnya dan bertanya, “Siapa anak-anak ini?”

Bibi menunjuk satu demi satu, “Ini Nenek waktu masih kecil. Ini sepupunya, Jose yang tenggelam di sungai. Ini Paman Juan…Bibi Celesta… Aku tak ingat nama-nama yang lain.”

Aku merasa ada yang ganjil. Mereka itulah teman-temanku bermain pada malam hari! Dan gadis pirang itu adalah Nenek, berpuluh-puluh tahun lalu. Aku telah bermain dengan Nenek dan semua yang ada di foto itu!

Eh! Aku juga ada di pojok foto itu. “Dan ini siapa?” tanyaku pada Ibu.

“Yang mana?” tanya Ibu.
Aku menunjuk pada seraut wajah tersenyum yang mirip wajahku. “Barangkali seorang tetangga…” ujar Ibu.

Tapi aku mendesak, “Tapi Mam, ini aku!”

“Jangan berkata yang aneh-aneh, Nak!” cetus Ibu. “Usia foto ini sudah lebih enam puluh tahun. Bagaimana mungkin itu kamu. Tapi…” Ibu memandangi foto itu lebih seksama, lalu menambahkan, “Tapi aneh sekali…wajahnya mirip benar denganmu!”

Foto itu masih kusimpan sampai sekarang. Sebagai kenang-kenangan terhadap teman-temanku si “Anak-anak malam.”

 ***

By: CARLOTTA CARVALLO DE NUNEZ (Bobo No.33/XXVIII)

 

3 responses to this post.

  1. wah dulu ini cerita favorit saya di majalah bobo..sayangnya sekarang udah ilang majalahnya..makasih banyak ya buat admin uda nulis posting cerita ini..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: