Aku Tidak Memakan Rotimu

Sore itu dimeja makan kosku, ada setangkup roti hangat. hmmmm aromanya lezat. kulirik diatasnya bertaburan keju, coklat dan kismis. cewek-cewek temenku pada berebutan mengelilinginya. tapi ibu kosku melarang kami untuk memakannya. ‘jangan dimakan ya rotinya itu pesenan orang lain!’ kami semua mengangguk patuh. walau hidung ini tergelitik untuk menikmatinya. teman-temanku pun begitu. tidak ada perempuan yang tidak tergila-gila pada kue coklat hangat. aku sedikit tersadar dan menghiraukan aroma kue itu. maklum, hari itu aku sedang berpuasa.

Tak lama kemudian ibu kosku pamit. beliau akan mengunjungi putrinya yang baru melahirkan. titip pesan pada kami agar menjaga rumah dengan baik. kami, 7 gadis kos yang menghuni rumah itu hanya tersenyum melepas kepergiannya. ‘ingat! kuenya jangan dimakan yaaa?’ teriaknya pada kami sambil melambai diatas taksi.

Baru saja ibu kosku pergi. teman-temanku sudah mengerubungi meja makan tempat roti coklat hangat itu disajikan. aku cuma geleng-geleng. mengingatkan agar mereka tidak menyicipinya. nanti sore pemilik roti hangat itu akan datang mengambil pesanan rotinya. lantas kemudian aku kembali ke kamar. tiduran sambil menunggu waktu berbuka tiba.

Tiba-tiba roti hangat yang diatas meja berbicara kepada kami. sambil menyunggingkan senyumannya. ‘ayolah, makan aku……….aku enak lho……. ada coklat keju……….hmmmm lezaat!!!’ si roti coklat terus berbicara kepada kami. dia menguarkan aromanya yang menggoda, menggelitik hidung kami agar mencicipinya. kami sudah tergiur dengan roti itu. tapi aku segera sadar. aku masih puasa. dan roti itu bukan milikku. aku kembali ke kamar. tenggelam dalam buku yang aku baca.

Tak lama kemudian bel rumah kami berdentang nyaring. ‘ting tong! ting tong!’ aku bergegas membuka pintu depan. disana tampak seorang gadis yang bermuka masam. tubuhnya kurus dan rambutnya lepek. seperti tidak pernah dicuci.

‘ aku pemilik roti. bolehkah aku mengambilnya sekarang?’ ‘tentu’ jawabku. aku bergegas ke meja makan tempat roti tersebut disiapkan.

Tapi alangkah terkejutnya aku. roti itu tertawa-tawa di pelukan ke 6 teman perempuanku. dan ya Tuhan! roti itu tidak lagi utuh. dia sudah digigit disana-disini. teman-temanku berebutan untuk menghabiskannya. si roti masih kecentilan dirubung gadis-gadis itu. ‘aaah geli tau! jangan gitu dong!’ si roti centil berteriak-teriak genit ketika teman-temanku mencoleknya. belum habis rasa terkejutku, si gadis pemilik roti tanpa permisi membuntuti dan meneriakiku.

‘itu rotikuuuuuuuu!!!!!!!!’ teriakannya mengagetkan kami. teman-temanku perlahan menyingkir. dan si roti kembali menjadi roti biasa. yang tidak hidup. yang tidak tersenyum genit. dengan amarah yang meluap si gadis pemilik roti menyumpahi kami. maling lah apa lah. dan dia menunjuk-nunjuk mukaku. menuduhku bahwa aku turut menikmati rotinya. teman-temanku ketakutan. mereka terdiam menyaksikan aku dituduh sedemikian.

Tentu saja aku tidak terima. ‘aku tidak memakan rotimu!’ aku balas demikian. ‘lagipula aku sedang berpuasa dan aku memang belum punya roti untuk aku berbuka. tapi aku berniat membelinya. karena aku punya uang. dan aku bukan maling seperti yang kamu teriakkan!’

Si gadis pemilik roti terdiam. tapi kulihat di matanya ada bara. demikian menyala. tanpa ba bi bu, di mengambil roti yang sudah tercabik-cabik itu. dan memakannya terang-terangan di depan kami. lantas meninggalkan rumah kos kami tanpa meminta maaf kepadaku.

Teman-temanku masih geleng-geleng. ‘kasian sekali melihat gadis itu. roti yang sudah amburadul seperti itu dia tega memakannya. apa dia tidak punya uang untuk membeli roti yang lain?’

‘ memang kenapa?’ tanyaku.

‘kau tahu, roti itu sudah kita main-mainkan, kita colek coklatnya dan terjatuh diatas lantai. itukan kotor’

‘apakah kau menyukai roti itu dan berniat memilikinya? dan kau tidak suka jika roti itu diambil yang punya apapun keadaannya?’

‘tidak. bukan begitu. aku dan teman-teman hanya tertarik untuk menyicipi dan menjadikannya mainan. karena roti itu yang sudah genit menggelitik hidung kami agar menikmatinya. orang lain yang bukan pemilik roti itu”jadi?’

‘mungkin aku akan membuat roti yang lebih lezat untuk aku makan sendiri dan kutempatkan di tempat istimewa. hanya untukku. bukan untuk dibagi-bagi.’

aku tersenyum ‘hm, tampaknya menarik!’

‘ayo kita buat sekarang. lagipula bukankah membuat roti sendiri lebih menyenangkan daripada membeli di toko? ‘

‘tentu. dan kau akan membuatkanku satu lagi kan untuk aku berbuka?’

‘tentu. hanya untukmu teman. bukan untuk dibagi-bagi’ jawab temanku sambil tersenyum dan menggamit lenganku ke dapur. melupakan tentang gadis kumal bermuka masam yang telah memperburuk hari kami.

Tiba-tiba saja dunia tersenyum pada kami

Aku Tidak Memakan Rotimu (Sebuah Satire untuk Seorang Gadis)

 

Sumber: http://pradnyamandala.blogspot.com/2011/12/aku-tidak-memakan-rotimu-sebuah-satire.html

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: