Kisah Kami

Rapat dimulai. Itu, presidium sidang komat – kamit baca agenda yang ingin ia katakan kepada kami, anggotanya tentu. Di sini, di forum ini, kami berempat mengadu dalam sastra dan cerita. Bukan kami saja, ada 30 anggota. Mencari fakta dan realita yang bisa membuat para pembacanya berdecak kagum dan tertawa. Di depan, dia Sari, ketua kami yang kami sukai. Meski namanya begitu ndeso, tapi kami menghormati dia. Lupakan tentang Sari. Mari kita membahas kami sendiri.

Kami, bukan jurnalis profesional. Cuma empat lelaki SMA yang tergabung di forum atau akrab dipanggil redaksi ini. Salah satu dari kami, punya tahi lalat di muka. Kedua, punya rambut ikal. Ketiga, punya dahi yang lebar. Dan, terakhir, itu lelaki berpakaian kacau. Kami beda, tentunya punya empat nama. Siapa nama lelaki pertama? Lelaki kedua dan seterusnya? Yang pasti, bukan Sari ataupun Ervi.

Meski beda, kami tetap sama. Setia pada redaksi ini. Mungkin sampai setahun ke depan, kami masih menggeluti pekerjaan amatir ini. Tentu, mengasykan. Karena kami, memang suka dengan sastra. Apalagi, lelaki berambut ikal itu. Ia, suka sekali pada Laskar Pelangi. Hingga ia sudi pula dijuluki si Ikal. Tokoh dalam novel itu.

Kembali pada rapat tadi. Kami memperhatikannya dan mengambil apa maksud rangkaian – rangkaian itu. Ternyata, sebuah tugas dari Sari, ketua redaksi kami, menitipkan satu amanat bagi kami masing – masing untuk mencari jarum dalam jerami, ujung benang ruwet atau yang lain. Tak peduli, kami siap melakukan amanah ketua kami. Itu pun tak sepeser pun imbalan untuk cuci keringat kami. Tapi, demi loyalitas, kami tetap melangkah dengan berdasi.

Satu sisi. Ini lelaki Ikal. Dia mendatangi kantin, tepatnya, kantin perempuan. Seperti biasa, ia menjajan dan sedikit menambah kesegaran tenggorokannya, dengan minum segelas air. Tentu aneh bila lelaki makan di kantin wanita. Lalu, tanpa malu ia menuju meja kasir yang masih sederhana itu. Ini tidak mudah, berpuluh – puluh wanita berjubel di depan kasir untuk memesan makanan. Ia juga tak tega bila ia menerobos dalam kerumunan itu tanpa sengaja menyikut gunung – gunung kembar itu. Tak ayal, ia hanya membayar dan tak punya waktu untuk merekam kata – kata Bu Sis dalam secarik kertas. Ngaso pertama, habis.

Tak gentar, ngaso kedua, ia kembali. Lagi – lagi, ia tak tega, kali ini, takut bila tak sengaja, menyentuh montok – montok itu. Strategi wawancara gagal lagi dan sudah 10 ribu ia habiskan untuk dua kali ngaso. Masih tersisa akal si Ikal untuk meminta kata – kata itu. Ikal, terkenal jurnalis pejuang.

Pulang sekolah, ia bergegas ke kantin. Alhamdulillah, Bu Sis masih ada di situ dan bersedia diwawancarai. Baru saja, satu pertanyaan terjawab. Tiba – tiba, tinja dalam perut ikal menggedor – gedor ingin keluar. Lantas, dua ngaso tadi, ia makan makanan super sambal. Tak tahan lagi, tanpa pikir lebar lagi, akhirnya Ikal memberikan catatan kumpulan soal – soal kepada bu Sis. Sementara, ia sibuk bergulat dengan tinja itu di WC. Bu Sis pun, hanya mengisinya sebagai soal angket. Ya, setelah tinja itu, K.O ia mengambil lembaran tadi. Lalu ia berkata,

“Maaf Buk, Bagus gak beli makanan, uang sakuku sudah habis.”

“Gak apa – apa Gus, yang penting tugasmu kelar.”

Ikal keluar dari kantin itu setelah mengucap terimakasih. Dan terbukti, si Ikal bernama Bagus beserta kisah kebeletnya.

Sekarang, lelaki dahi lebar. Panggil saja, si Dahi. Dia berdiam diri di perpustakaan. Di tengah keheningan itu, dalam kepalanya malah ribut sendiri. Dia bingung akan menuliskan apa di selembar kertas folio itu. Mulanya ia ke perpus karena mungkin sangat kondusif, tapi, saking heningnya ia malah tak bisa mencari inspirasi.

Kemudian, ia mencari tempat yang agak ramai. Di tempat dimana para siswa beramai – ramai. Ya, halaman sekolah yang sering digunakan untuk futsal di jam ngaso. Ramai sekali, ternyata, ramai plus ribut di otaknya malah membuat kepalanya pusing kuadrat. Lalu, ia berfikir, dimana bisa ia menemukan tempat yang tak hening dan tak begitu ramai. Lama sekali ia menyambung koneksi di otaknya.

Ia melamun di sudut halaman itu sembari duduk di kursi kayu. Tetap saja, ide – ide konyolnya belum semudah itu terbit.

“Bruk!” Sebuah bola mentah menghantam tepat di dahinya.

“Ough” katanya kesakitan. Sambil menunggu bintang – bintang mengitari kepalanya hilang, ia memandang sana sini. Dilihatnya wow, wanita – wanita cantik di depan kelas 12 yang mondar – mandir.

“Ting!” Baru saja bohlam dalam otaknya menyala. Ia punya ide bagus.

Jam pelajaran ia habiskan untuk mengisi lembaran itu dengan paragraf – paragraf artikel. Saking asyknya bahkan ia tak menghiraukan pelajaran Akuntansi super keren itu. Tak ada yang bisa mengganggunya. Jari – jarinya tak henti menulis. Untung saja, sang Guru tak berkeliling. Bila itu terjadi, bisa – bisa, kuping si Dahi hangus oleh jeweran maut sang Guru.

Lega rasanya ia berhasil menyelesaikan artikel itu. Dan sedikit mengikuti pelajaran sebelum ngaso kedua ON AIR. Ia baca lagi artikelnya. Ada celah di sana. Merasa tak puas, ia isi celah halaman itu dengan sebuah puisi. Lumayan agar karyanya ada dua.

“Tett . . . ! ! !” Bel pulang bicara lagi. Secepat kilat si Dahi melesat entah kemana. Ketemu, ia berada di depan kelas 12 dengan seorang wanita. Apa yang ia lakukan? Ia mempraktekan puisinya langsung kepada wanita yang membuatnya terinspirasi.

Lalu, “Ehem . . . Ehem . . .” Kemudian, sebuah tangan kanan memegang kuping kanan si dahi, dan tangan kiri memegang kuping kiri si dahi dari seseorang di belakangnya. Tangan itu meremas kuping si Dahi dengan memutar.

“Aauu! Sakit!” teriak si Dahi. Ia menengok ke belakang. Ternyata pacarnya memergokinya.

Masih pada posisi menjewer ia diseret dan pacarnya berkata, “Faisal! Dasar lelaki mata keranjang!”

Begitu kisah si Dahi. Terbukti bernama Faisal. Dan setelah pulang, tamparan mentah mendarat di pipinya setelah pacarnya membuka artikel yang ia buat berjudul “Semakin dewasa, siswi kelas 12 semakin sexy”. Sungguh mengenaskan.

Ketiga, si Tahi Lalat. Sementara, kupanggil si Lalat saja karena tak enak bila kusebut si Tahi. Ia seperti pemain film box office sedang stand by di alun – alun dengan memakai kacamata hitam menumpangi motor matic yang sungguh “FEMININ” itu. Apa yang ia lakukan? Ia mulai menjalankan motornya, menyusuri jalan. Ia menemukan kerumunan orang yang mengerubuti sesuatu di tengah jalan. Hatiku merasa kagum. Sepertinya ia meliput berita kematian korban tabrak lari. Karena aku yakin, dari bentuk kerumunan itu ya seperti yang ku inginkan.

Seketika kekagumanku menciut, ternyata setelah kerumunan itu melebar, hanya terlihat rombongan karnaval. Capek deh! Dengan cool si Lalat mengorek isi sakunya. Terlihat menonjol. Ternyata, sebuah kamera digital ci luk ba keluar dari saku celananya. Tugas si Lalat, ternyata mengambil foto – foto karnaval itu.

Hari sudah sore, dan sudah cukup banyak objek yang terjepret kamera digitalnya. Ia pun memutuskan untuk pulang. Gembira ia dengan hasil yang ia dapat. Tanpa sadar, ketika mengendarai motornya sampai di jalan yang terapit sawah, tiba – tiba motornya mogok. Tanpa ia sadari, bensinnya habis. Sementara jarak dari rumahnya hampir 9 km lagi.

Namun si Lalat tetap optimis. Ia yakin sedikit lagi akan menemukan pengecer bensin. Sial baginya, langit mendung itu memandikan si Lalat beserta motornya. Kasihan dia. Hampir satu jam ia menuntun motornya. Ia menemukan sebuah toko dengan bensin eceran. Ia begitu bahagia. Lalu, dompetnya ia periksa lagi. Kosong. Ia baru sadar bahwa memang sudah njajan banyak di alun – alun.

Ia pasrah dan berusaha sampai di rumah. Dengan kondisi basah kuyup ia gembira karena home sweet home itu berada di depan mata. Tanpa diketahui, ia memarkirkan motor “FEMININ” itu. Dan segera melempar saja baju basahnya di tempat cucian. Dan tanpa berbaju, alias telanjang bulat ia merebahkan tubuhnya di ranjang kamar. Inilah yang namanya “Berakit – rakit dahulu, berenang – renang kemudian”. Nikmat.

“Dimas, baju basahmu segera dicuci! Nanti baunya kemana – mana!” teriak ibunya mencak – mencak. Lalu, Peribahasa itu ia rubah menjadi “Berakit – rakit dahulu, berenang – renang kemudian. Lalu berakit – rakit lagi”. Dan ini mengakhiri kisah si Lalat. Terbukti, ia bernama Dimas.

Ini kisah terakhir. Si Pakaian Semrawut. Sedang apa ia? Ia tertawa di meja belajarnya. Gembira karena ia berhasil membuat cerpen yang dapat mengocok perut pembacanya. Cerpen itu berjudul “Kisah kami”. Ya, cerpen ini, aku yang membuatnya, si Semrawut. Panggil saja, Jack.

 

Sumber: http://pradnyamandala.blogspot.com/2012/01/kisah-kami-cerpen.html

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: