Sang (calon) Bupati

Jadi bupati! Hah, dada lelaki tua itu serasa ingin meledak oleh gembira. Terbayang ia berjalan diiringi beberapa pengawal dengan wajah serius sekaligus sedikit kejam, membentangkan tangan memberinya jalan. Beberapa pejabat membungkukkan badan saat mengulurkan tangan hendak menyalaminya.

Lalu, ia berpidato di podium. Semua mata tertuju padanya. Semua kagum padanya. Lalu para mahasiswa, petinggi-petinggi organisasi, partai, pengusaha, dan konglomerat, berlomba-lomba menyenangkan hatinya. Ya, suksesnya menjadi bupati adalah sukses negeri ini juga. Negeri yang sekian lama hanya jadi bulan-bulanan, ladang perburuan para penguasa dari pusat.

Kini, ialah pusat itu. Ialah yang akan mengendalikan segalanya. Dengan menjadi bupati, ia akan memanfaatkan lobby-lobby tingkat tinggi untuk mendapatkan proyek, uang, dan harta yang banyak.

Hm? sungguh sebuah fantasi yang memabukkan!

“Om! Om! Jangan ngelamun terus dong Om,” tiba-tiba perempuan cantik dengan pakaian seadanya yang sedari tadi bermalas-malasan disampingnya mengagetkannya. Lamunan yang demikian mengasyikkan itupun buyar dengan sendirinya. Seperti gelembung dari sabun yang ditepuk oleh anak kecil.

Lelaki tambun itu menghisap rokoknya. Ruangan itu telah sesak oleh asap. Namun ia dan perempuan itu masih ingin berlama-lama.

“Om, kalau Om jadi bupati, saya dinikahi ya Om!” kata perempuan itu padanya.

“Ah kamu, jangan ikut-ikutan menghayal. Sana, ambilkan saya makanan!”

“Siap bos! Tunggu sebentar ya!”

Dengan sigap perempuan itu menyambar telepon dan memencet beberapa tombol.

“Minta seafood ya!” katanya, “antarkan ke kamar 412. Segera.”

Gadis itu masih sangat belia. Umurnya belum lagi genap tujuh belas. Kata orang dia sedang ranum-ranumnya. Wajah Amanda, demikian ia memperkenalkan diri, memang tergolong manis. Apalagi matanya yang seolah ikut tersenyum setiap kali bibirnya tersenyum. Sifat kekanak-kanakannya masih tersisa dan barangkali itulah daya tarik terbesarnya hingga sang calon bupati itu tergila-gila padanya.

“Om, kata orang pria seumur Om ini harus banyak makan seafood, biar makin hot, hahaha?”

Sang calon bupati itu tersenyum kecil. Ia mematikan rokoknya dan duduk di kursi dekat jendela.

“Kemarilah,” katanya kemudian.

Amanda mendekat.

Sang calon bupati itu lalu memeluknya. Bukan pelukan birahi, tapi pelukan kasih sayang.

“Om kenapa?” tanya Amanda.

“Kalau Om jadi bupati, kamu harus meneruskan sekolahmu di sekolah terbaik. Nanti, bila telah selesai dan kamu sudah cukup dewasa, aku akan menikahimu,” katanya sungguh-sungguh.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan. Matanya menatap dalam-dalam mata sang calon bupati.

“Benar?”

Lelaki itu mengangguk.

“Kalau soal ini, Om tidak main-main. Kamu anak cerdas dan cantik. Sayang kalau disia-siakan. Kamu harus sekolah dan mendapatkan gelar sarjana. Bagaimana kalau kamu sekolah di Australia?”

“Apa?!  Australia? Gak salah nih Om?!” Amanda terbelalak tak percaya.

” Australia itu cuma sejengkal dari sini. Apalah susahnya? Lebih lama ke Jakarta dibandingkan ke  Australia .”

“Tapi saya belum pernah ke  Australia.”

“Ah, itu gampang. Nanti kalau saya jadi bupati dan kamu sekolah di  Australia, tiap hari kamu bisa ke sana.”

Amanda mencubit gemas pinggang lelaki itu hingga ia tergelak-gelak.

Ia senang sekali hari ini. Lamunan menjadi bupati itu, dan juga kehadiran Amanda, adalah kebahagiaan tersendiri. Tidak setiap hari ia bisa tertawa. Banyak persoalan memenuhi kepalanya.

Demonstrasi para pekerja, tuntutan LSM agar tidak lagi menebangi hutan? Ah, memang keparat orang-orang di LSM itu. Bisanya cuma ngomong! Apa mereka tidak tahu, kalau kayu-kayu itu tidak ditebangi, masyarakat yang tak punya keahlian apa-apa itu akan menganggur. Mereka akan kelaparan dan biasanya orang lapar lebih beringas. Lagi pula, toh aku sudah membayar upeti yang banyak kepada pihak-pihak terkait? Mereka saja tidak seribut LSM itu.

Dan satu lagi, terkadang anak-anak muda sok idealis di LSM itu hanya menggertak. Nanti kalau sudah disumpal mulutnya dengan uang, demonstrasi-demonstrasi norak itu akan reda dengan sendirinya. Sebagai gantinya, mereka menawarkan proposal kerja sama, atau tepatnya proposal ‘pemerasan’ dan sok berpihak pada kami. Ah, saya muak!

Kini sesuatu yang menggelikan terjadi. Dia ditawari untuk menjadi bupati. Serasa akan meledak tawanya ketika seorang wakil dari partai tempatnya bergabung mengatakan hal itu. Namun untunglah ia dapat menahan diri.

Ia menoleh ke tempat tidur dan melihat Amanda melingkar dengan nyaman dalam selimut. Wajahnya yang tenang dan matanya yang tertutup rapat membAmandan kedamaian di hati lelaki itu.

Dia begitu polos. Cantik. Tapi mengapa harus lahir dari benih seorang bajingan? Mengapa ia harus ‘dimakan’ oleh bapaknya sendiri? Seandainya saja Amanda anak kandungnya, akan ia jaga sedemikian rupa hingga seekor nyamukpun tak akan berani menggigitnya.

Ditemukannya gadis itu suatu malam di sebuah diskotik. Teler oleh minuman keras. Pada awalnya ia tak begitu ambil pusing karena itu pemandangan biasa. Tapi ketika Amanda memanggilnya ‘papa’, mau tak mau ia berpaling pada gadis itu.

“Papa, jangan Pa!” rintihnya tak begitu jelas.

Lelaki itu tertegun. Entah mengapa tiba-tiba rasa ibanya muncul. Dipanggilnya sopirnya dan dibawanya gadis itu ke hotel. Ia sendiri kembali ke rumahnya. Hingga keesokan paginya, gadis itu belum juga terbangun. Pukul sebelas, telepon genggamnya berdering. Sopirnya memberitahu bahwa gadis itu sudah bangun. Lelaki calon bupati itu dengan diliputi rasa penasaran, mendatangi hotel itu dan mereka bertemu di lobby.

Barulah siang itu ia melihat dengan jelas wajah gadis itu. Cantik. Ia menatap lelaki itu takut-takut. Lelaki itu menyuruhnya duduk dan memesan makanan. Setelah itu, semuanya mengalir begitu saja.

***

“Tawaran ini tidak main-main Pak. Bapak merupakan salah satu kandidat bupati. Kans kita untuk menang cukup besar. Bapak lihat sendiri kalau kita melakukan kunjungan ke daerah, sambutan masyarakat sangat luar biasa,” kata Sekjen partai padanya.

Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya sejauh ini semuanya mudah dicerna.

“Jabatan Bupati sepertinya cocok untuk bapak. Bapak kan seorang insinyur pertanian dan punya perusahaan plywood pula. Belum lagi kebun yang ribuan hektar luasnya. Lagipula, toh nanti bukan bapak yang akan bekerja keras, tapi para staf. Kita akan pilih orang-orang yang hebat untuk menjadi staf bapak,” kata yang lain.

“Soal dana kampanye, jangan khawatir Pak. Ada seorang konglomerat dari Jakarta yang bersedia menjadi sponsor.”

“Siapa?”

Ia menyebut sebuah nama.

“Pemilik pusat berjudian di Surabaya itu?” tanyaku hampir tak percaya.

Orang dari partai itu mengangguk pasti. Matanya bersinar senang.

“Angka-angka yang ditawarkannya cukup fantastis Pak. Setelah kita menyogok setiap anggota dewan dan partai, dana itu masih akan tersisa cukup banyak.”

“Apa tawarannya?”

“Kita memberi ijin ia membuka usaha judi di Jamus.”

“Pusat pelacuran sekaligus pusat judi?”

“Termegah di Asia Pak, dijamin.”

“Bagaimana Pak? Kami perlu ketegasan dari bapak, agar daftarnya dapat kami buat. Pers mulai mengintai untuk mendapatkan informasi ini. Kami kira ini moment yang tepat untuk melakukan kampanye terselubung.”

“Saya pikirkan dulu sehari dua hari ini,” lelaki itu akhirnya bicara juga.

“Baiklah, kami akan kesini dua hari lagi. Kami harap bapak sudah mengambil keputusan saat itu. Ini demi partai, demi kita semua Pak.”

Akhirnya orang-orang itupun pergi. Lelaki itu mengulang-ulang, demi partai, demi kita semua, tidak sekalipun menyinggung soal rakyat, soal masa depan negeri ini. Jadi, apakah ia hanya akan menjadi boneka? Atau menjadi tameng hidup yang akan dihadangkan pada para pecinta lingkungan hidup bila banjir melanda negeri ini?

Mereka sengaja menawarkannya jabatan agar kelak juga kebagian. Dapat uang berlimpah untuk berfoya-foya sementara rakyat jelata mengais-ngais remah di tong sampah, menebang kayu demi kayu di hutan lindung agar dapat membeli beras, merantau ke negeri orang secara ilegal dan pulang-pulang sudah menjadi gila. Sungguh sangat komplek persoalan negeri ini. Dan para pemimpinnya, ataupun calon pemimpin, sepertinya hanya mementingkan diri mereka sendiri.

Tapi menjadi bupati? sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya. Mungkin itu cita-cita tertinggi yang bisa diraihnya. Samakah menjadi bupati dengan menjadi direktur sebuah perusahaan plywood? Tentu tidak. Terbayang berbagai fasilitas negara yang akan didapatkannya bila jabatan itu ada di pundaknya. Rumah mewah, pengawalan super ketat, mobil anti peluru, para gundik yang datang silih berganti?

Namun saat melihat tubuh Amanda yang rapuh tak berdaya tidur melingkar dengan nyaman itu, hatinya tiba-tiba merasakan yang lain. Seandainya benar ia jadi bupati, lalu kemanakah Amanda akan disurukkan? Ke Singapura? Hongkong? Kanada, Amerika, atau mungkin Afrika Selatan? Tapi para agen dari badan intelijen pastilah dengan mudah akan menemukannya. Lalu aibnya itu akan dibongkar oleh lawan-lawan politiknya. Lalu, entah dimana ia akan berakhir. Di kolong jembatan dengan satu lubang tembakan tepat di dahi? Atau terpotong-potong dan dibuang secara terpisah di sembarang tempat?

“Papa?” Amanda mengigau lagi. Hanya itu yang selalu dikatakannya setiap kali mengigau. Sepertinya trauma itu begitu dalam melukai Amanda. Lelaki itu melompat dari duduknya dan mendekati gadis itu. Dibelainya rambutnya dengan kasih sayang. Anak malang?

Setelah Amanda diam kembali dan gerak tubuhnya telah teratur pertanda pulasnya tidur, lelaki itu kembali dihanyutkan oleh bayangan menjadi seorang bupati. Keluar masuk istana, keluar masuk gedung DPR, keluar masuk televisi, dikejar-kejar wartawan, kunjungan ke luar negeri, sementara orang-orang di kampung halamannya yang miskin mencabuti tanaman yang baru saja mereka tanam, untuk penyambung hidup. Sementara ia menikmati makanan Eropa dan meneguk kaviar, sebagian masyarakat nun jauh tersuruk di sudut negeri, memangkas pucuk-pucuk sawit untuk dijadikan pengganjal perut.

Lama lelaki itu merenung. Tak dirasakannya setitik air telah jatuh dan mengering di pangkuannya. Ketika ia kembali ke alam nyata, ditariknya napas dalam-dalam dan melihat ke luar jendela.

Ah, lama sekali utusan dari partai itu datang. Ia sudah tak sabar ingin menyampaikan keputusannya.

 

Sumber: http://pradnyamandala.blogspot.com/2011/12/sang-calon-bupati.html

One response to this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: