Agama Jawa (Laku Batin Menuju Sangkan Paran)

Agama Jawa 2

  • Judul Buku             : Agama Jawa (Laku Batin Menuju Sangkan Paran)
  • Pengarang             : Dr. H. Suwardi Endraswara, M.Hum
  • Penerjemah             : –
  • Cetakan ke, tahun             : 1, 2012
  • Penerbit             : Lembu Jawa (Lembaga Budaya Jawa)
  • Tebal             : 192 hal; 15.5 x 24
  • Harga             : –
  • Keterangan
  1. Kategori : Non Fiksi
  2. Call number : 299.5 Suw a
  3. ISBN/ISSN : 978 979 16505 7 1
  4. Bahasa : Indonesia
  5. Tempat Terbit : Yogyakarta
  6. Tempat Pinjam : Perpustakaan Daerah Pemerintah Kabupaten Ngawi
  • Lain-lain
  1. Tokoh : –
  2. Sinopsis : –
  3. Opini : Bahasanya cukup rumit karena merupakan sebuah “disertasi” untuk mencapai gelar S3.
  4. Amanat : Orang akan kehilangan kendali hidup jika lepas dari guru sejati.
  5. Catatan/Motivasi :
  • Serat Wirid Hidayat Jati dalil ketiga “Gelaran Kahananing Dzat”: Sejatine manungsa iku rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsa-ning manungsa, karana Ingsun anitahake Adam asal saka ing anasir patang prakara: bumi, geni, angin, banyu. Iku dadi kawujudaning-Sun, ing kono Ingsun panjingi mudarah limang prakara: nur, rahsa, roh, napsu, lan budi. Iya iku minangka warananing wajah Ingsun kang Maha Suci.
  • Dalam konteks emanasi, tampak pengertian bahwa Tuhan jumeneng dalam tiga bagian tubuh Adam (manusia). Adam menjadi symbol insane kamil, sebab dalam dirinya terpancar anasir, mudah dan tiga mahligai Tuhan. Tiga bagian mahligai yang sakral dalam diri manusia itu disebut Triloka.
  • Ketiga mahligai itu menandai bahwa dalam diri manusia terdapat jagad cilik. Dalam Triloka itu Dzat Ingsun membangun mahligai serta menggerakkan hidup manusia.
  • Triloka meliputi: 1) Guru-Loka (Bait Al-Makmur), berada di kepala dihuni oleh Batara Guru; 2) Endraloka (Bait Al-Muharam), terletak di dada dihuni oleh Batara Endra; dan 3) Jana-Loka (Bait Al-Mukaddas), berada di kemaluan dihuni oleh Batara Kamajaya.
  • Namun demikian eksistensi Tuhan dalam diri manusia tidak dapat dikenali dengan mata kepala. Jagad Triloka mengindikasikan bahwa segala sikap dan tindakan tidak semata-mata berpusat di kepala.
  • Meskipun posisi kepala di atas, tetapi sentral tindakan tetap menggunakan pertimbangan jinem (raos). Dalam posisi ini jinem lebih tepat dinyatakan sebagai rasa, yaitu rasa sejati. Rasa sejati (Endraloka) itu yang menggerakkan nalar (Guruloka) dan dorongan nafsu seksual (Janaloka). Rasa sejati yang membimbing keduanya hingga manusia bertindak arif. Rasa sejati adalah inti rahsa yang akan membimbing rasa lain. Dalam rasa sejati itu Tuhan bersemayam.
  • Dalam diri manusia terdapat gejolak nafsu hitam, yang berasal dari anasir bumi. Gejolak nafsu merah, yang berasal dari anasir api. Gejolak nafsu kuning yang berasal dari anasir angin dan gejolak nafsu putih yang berasal dari anasir air.
  • Gejolak nafsu hitam: nafsu ini amat berbahaya jika tanpa pengendalian diri secara serius. Yaitu hidup yang hanya memperhatikan makan (nggedheake puluk) dan tidur melulu. Hal ini diasumsikan seperti perilaku hewan. Ini disebut nafsu aluamah.
  • Nafsu berwarna merah: menggoda orang agar dapat menguasai orang lain. Nafsu merah ini disebut nafsu amarah. Orang yang tergoda nafsu ini, biasanya ingin menang sendiri. Nafsu ini menggiring orang bergerak lebih angkuh, semua orang di sekitarnya dianggap kecil. Kalau sudah menang, bangga. Jika kalah, orang tersebut mudah marah, tersinggung dan tega pada orang lain.
  • Nafsu kuning sering membelenggu orang hingga gemar hidup bermewah-mewah. Nafsu ini termasuk nafsu besar, terutama terkait dengan seks. Nafsu ini disebut nafsu supiah (birahi). Ibaratnya jika menuruti nafsu ini adalah ”senenge sak klentheng rekasane sak rendheng”. Untuk mensucikan sukerta (kotor) dilakukan pekerti dua hal yaitu dengan cara manekung dan ruwatan. Dengan cara ini gejolak nafsu kuning akan terkurangi. Ruwatan: ritual pembersihan diri; manekung: penjernihan batin agar mudah memahami Tuhan yang menyertai hidupnya.
  • Nafsu putih/nafsu mutmainah selalu berpusat pada Dzat’ing Pangeran. Nafsu ini yang hendak menggiring manusia menuju ke arah kesucian hidup, ke sentral kosmos yaitu Tuhan, yang membimbing nafsu yang lain.
  • Harmoni kosmos dapat diupayakan melalui tindakan: sabar (lawannya anasir api), rila (lawannya anasir angin), nrima (lawannya anasir bumi), dan temen (anasir air).
  • Pikiran manusia dibagi menjadi dua yaitu materiil dan spirituil. Ketika pikiran selalu ke arah hal-hal materiil, guru sejati akan lari, tidak mau mendekat. Namun kalau pikiran spirituil yang menonjol, maka dapat menghayati guru sejati.
  • Dalam pandangan tasawwuf, guru sejati yang ada pada manusia itu adalah Nur Muhammad, yang menjadi ”penghubung” antara seorang manusia dengan Gusti Allah. Hanya orang yang gemar melakukan pembersihan diri yang akan dibimbing oleh guru sejati.
  • Guru sejati berada dalam rasa. Pangrasa yang terdalam. Paling tidak, rasa yang akan muncul adalah kedamaian dan ketentraman yang ada dalam diri Anda meskipun tidak memiliki uang, biarpun hidup selalu dirundung musibah, suasana hati akan tenang apabila diterangi guru sejati.
  • Guru sejati memiliki fungsi sebagai sumber pelita kehidupan, ia bersifat teguh dan memiliki hakekat sifat-sifat Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah. Guru sejati adalah proyeksi dari rahsa/sir yang sumbernya adalah kehendak Tuhan. Guru sejati = rasa sejati, sebagai proyeksi atas rahsaning Tuhan (sirrullah), sehingga akan mewarnai energi hidup/roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kudus). Roh kudus/sukma sejati, telah mendapat ”petunjuk” Tuhan, maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai ”utusan” Tuhan.
  • Jika sudah menguasai/menemukan guru sejati, hidup akan tenang seolah-olah telah ada yang menjamin keselamatannya. Guru sejati akan menjadi teman hidup sejati, menjadi penyeimbang, pengingat dan menjadi filter seluruh tindakan menuju ketentraman hidup.
  • Guru sejati harus diolah agar tidak lepas yaitu dengan cara mengekang/menguasai hawa nafsu negatif yakni nafsu lauwamah (biologis, nafsu serakah), amarah (angkara murka), supiyah (kenikmatan duniawi/birahi/psikologis), dan menggapai nafsu positif dalam sukma sejati (nafsu muthmainah/kemurnian/kejujuran).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

RODA HUKUM

Tiada KEBENARAN selain KEBENARAN itu sendiri.

Erlan Agusrijaya

Strive to do the best as a muslim teacher

itateanese

ketika: ide lahir, inspirasi hadir

hidup untuk hidup dalam hidup

adalah aku yang hidup dalam ku

GIRL IN THE POT

Walk . Write . Whatever

Purwatiwidiastuti's Blog

Mari nikmati indahnya berbagi

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Catatan Anak Hulondalo

Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya...!!!

Hasna Azura

Dreaming is not enough, you must do!

bintangrina

Forum olah-rasa batin dan rasa (For bara)

Ishtar

Nothingness

riwewijaya

Just another WordPress.com site

AngananTyas Blog

karena aku bukan anak raja, bukan pangeran berkuda, bukan pula dewa, maka akan kubingkai kata kata, hingga ku dikenang dunia

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: